Tahta Ditinggalkan, Harta Diserahkan
13 Juta Gulden untuk Indonesia, Jejak Pengorbanan Sultan Syarif Kasim II
BUALBUAL.com - Di tengah euforia Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang masih seumur jagung, sebuah keputusan besar lahir dari tepian Sungai Siak. Sultan Syarif Kasim II, penguasa ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura, memilih menanggalkan kekuasaannya dan bergabung dengan Republik Indonesia.
Sultan Syarif Kasim II, yang lahir pada 1 Desember 1893, tidak hanya menyatakan kesetiaan kepada Republik. Ia juga menyerahkan kedaulatan wilayah Kesultanan Siak beserta sejumlah aset kerajaan kepada pemerintah Indonesia.
Di antaranya berupa ladang minyak, harta kerajaan, serta perhiasan dan mahkota emas yang bertabur intan dan berlian. Ia juga disebut menyumbangkan uang pribadinya sebesar 13 juta Gulden Belanda untuk mendukung perjuangan dan pembangunan Indonesia.
“Dia menjamin pendanaan Indonesia dengan menyerahkan mahkota-mahkota emas bertaburan intan berlian untuk mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, Sultan juga memberi uang pribadinya 13.000.000 Gulden Belanda. Suatu jumlah yang sangat besar,” ujar Budayawan Riau, Taufik Ikram Jamil, Senin (17/8/2026).
Pendidikan dan Pengorbanan Sang Sultan
Keputusan Sultan Syarif Kasim II bukanlah tindakan spontan. Sikap tersebut merupakan bagian dari amanah yang telah diwariskan keluarganya.
Wasiat leluhur menyebutkan bahwa apabila tidak ada lagi keturunan langsung yang memerintah, harta dan benda kerajaan harus diserahkan kepada pemerintahan yang sah.
Karena tidak memiliki putra mahkota, Sultan Syarif Kasim II memegang teguh amanah tersebut. Ia memilih melepaskan mahkota dan menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa, sekaligus mendedikasikan kekayaannya untuk kepentingan bangsa.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, perhatian Sultan terhadap kesejahteraan rakyat juga telah diwujudkan melalui bidang pendidikan. Ia memelopori pendirian sekolah bagi masyarakat pribumi serta memberikan bantuan pendidikan dan beasiswa kepada para pelajar.
Sultan juga dikenal sebagai sosok yang taat beragama dan dermawan. Salah satu kebiasaannya adalah bersedekah setiap Jumat.
“Dia banyak dikenang orang karena selama menjadi Sultan selalu bersedekah tiap hari Jumat. Bahkan, dia memberikan beasiswa kepada pelajar sampai 70 persen. Jadi, dari total biaya pelajar, 70 persennya dibantu SSK II. Tentunya sangat membantu,” kata Taufik.
Meneruskan Tradisi Perlawanan terhadap Penjajah
Perlawanan terhadap penjajahan telah menjadi bagian dari sejarah panjang masyarakat Riau. Tradisi tersebut kemudian diteruskan Sultan Syarif Kasim II dengan pendekatan yang disesuaikan dengan zamannya.
Taufik menyebut perlawanan masyarakat Riau terhadap penjajah telah berlangsung sejak abad ke-16.
“Kalau soal berperang menentang penjajah, orang Riau melakukannya sejak abad ke-16. Setelah Malaka ditaklukkan Portugis, orang-orang dari Gasib Siak memerangi Portugis tahun 1512. Ini disusul oleh Narasinga II tahun 1516 dan 1520,” ujarnya.
Menurutnya, perlawanan tersebut berlanjut pada abad-abad berikutnya, termasuk perjuangan Tengku Buang Asmara melawan Belanda di Siak pada abad ke-18 serta perjuangan Tuanku Tambusai pada abad ke-19.
Pada bulan-bulan awal setelah kemerdekaan, Sultan Syarif Kasim II bersama permaisuri juga meresmikan Tentara Rakyat Indonesia di halaman Istana Siak. Langkah tersebut dilakukan untuk membangkitkan semangat rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pengabdian Sultan kemudian mendapat pengakuan dari Presiden Soekarno. Ia dipercaya menjadi penasihat negara sejak 1946 hingga era 1950-an.
Namun, dalam menjalankan tugas tersebut, Sultan Syarif Kasim II disebut tidak bersedia menerima gaji dari negara.
Menutup Hidup dengan Kesederhanaan
Setelah melepaskan kekuasaan, Sultan Syarif Kasim II menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan istana.
“Setelah merumahkan kekuasaannya dan mengabdi sebagai rakyat biasa, Sultan melanjutkan hidupnya dengan bersahaja. Beliau menikah kembali dengan seorang wanita yang telah memiliki anak, hidup jauh dari gemerlap kemewahan istana yang dulu dipimpinnya,” tutur Taufik.
Sultan Syarif Kasim II wafat di Rumbai, Pekanbaru, pada 23 April 1968 dalam usia 74 tahun.
Atas jasa dan pengorbanannya bagi Republik Indonesia, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Syarif Kasim II pada 6 November 1998 melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998.
Kisah Sultan Syarif Kasim II menjadi salah satu gambaran tentang makna kemerdekaan. Ia rela melepaskan tahta, kekuasaan, dan sebagian besar hartanya demi sebuah negara yang baru lahir.
“SSK II menikah sebelum kemerdekaan saat masih Sultan, lalu cerai setelah Indonesia merdeka. Beberapa waktu kemudian, dia menikah lagi dengan wanita yang telah memiliki anak,” pungkas Taufik.
(MC Riau/asn)

Berita Lainnya
Tujuh Warga Tembilahan Terinfeksi Covid-19
Pemprov Riau Mulai Lakukan Pengaspalan Ruas Jalan di Kabupaten Inhil dan Inhu
Pemprov Riau Mendukung Pelaksanaan PSN Pembangunan Tol Ruas Jambi-Rengat-Pekanbaru
PDP Bertambah, Bupati Minta Masyarakat Tenang
Pemmbukaan TMMD, Bupati Kasmarni Minta Warga Ikut Wujudkan Akselerasi Pembangunan Desa
Pembagian Jadwal Ujian Peserta SKD CPNS Pemprov Riau bisa dipantau Disini
Dua Alat PCR Digunakan, Bisa Periksa 100 Sampel Swab Setiap Hari
Pemkab Meranti Upayakan Agustus Mendatang Masyarakat Pulau Padang Dapat Nikmati Listrik 24 Jam
Bupati HM Wardan Berduka Cita Atas Meninggalnya Tokoh Insel
Helikopter Dikerahkan, Bara Api Dikepung! Karhutla Rengat Kini Makin Terkendali
Kendalikan Laju Inflasi, Upaya Pemkab Purwakarta Bekerja sama dengan Forkopimda
Turnamen Badminton Bhayangkara Cup 2025 Polres Bengkalis Resmi Dibuka, Kasmarni: Mari Kita Junjung Tinggi Sportivitas dan Kebersamaan