Asap Kembali Selimuti Riau!
Bukan Cuma Karhutla! Kebiasaan Sehari-hari Ini Juga Bisa Cemari Udara Riau
PEKANBARU, BUALBUAL.com - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru dan sejumlah wilayah di Riau. Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Pemerintah Kota Pekanbaru bahkan memperpanjang penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik tingkat PAUD hingga SMP sampai Sabtu (10/10/2026).
Berdasarkan informasi Pemerintah Kota Pekanbaru, kualitas udara pada Rabu (7/10/2026) berada pada kategori sangat tidak sehat dan sempat mencapai kategori berbahaya sekitar pukul 13.00 WIB. Kebijakan PJJ diambil untuk mengurangi risiko paparan polusi udara terhadap peserta didik. .
Sementara itu, laporan pemantauan BMKG yang diberitakan pada Kamis (8/10/2026) mencatat 19 titik panas di wilayah Riau. Sebaran terbanyak berada di Kabupaten Kuantan Singingi. Pada periode yang sama, jumlah titik panas di Pulau Sumatera dilaporkan mencapai 4.845 titik, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu mendapat perhatian serius. .
Di tengah situasi tersebut, upaya menjaga kualitas lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan penanganan kebakaran. Pencegahan juga perlu dibangun melalui perubahan perilaku masyarakat, termasuk mengurangi pembakaran sampah di lingkungan permukiman.
Pesan inilah yang dapat diperkuat melalui pendidikan lingkungan atau pedagogi hijau, yakni pendekatan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan tentang lingkungan dengan pengalaman dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pedagogi Hijau, Menghubungkan Pembelajaran dengan Persoalan Lingkungan
Riau memiliki ekosistem gambut yang penting bagi keseimbangan lingkungan. Gambut menyimpan karbon dan air dalam jumlah besar serta menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Namun, ketika gambut mengering, terutama pada periode minim hujan, material organik di dalamnya menjadi lebih rentan terbakar.
Kebakaran di lahan gambut juga memiliki karakteristik khusus karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat proses pemadaman lebih sulit dan berpotensi menghasilkan asap dalam waktu yang panjang.
Karena itu, pencegahan karhutla perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari pengelolaan lahan, pemantauan titik panas, kesiapsiagaan masyarakat, hingga pendidikan lingkungan sejak dini.
Dalam konteks pendidikan, persoalan kabut asap, karhutla, gambut, sampah, dan pencemaran udara dapat dijadikan bahan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Melalui pedagogi hijau, lingkungan tidak hanya dipelajari sebagai teori di dalam kelas, tetapi juga dipahami melalui pengamatan, diskusi, dan kegiatan yang mendorong kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Tidak Membakar Sampah Bisa Menjadi Aksi Nyata
Salah satu kegiatan sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun rumah adalah membiasakan pengelolaan sampah tanpa pembakaran.
Peserta didik dapat diajak mengumpulkan sampah, memilahnya berdasarkan jenis, mengidentifikasi sampah yang dapat didaur ulang, serta mempelajari cara mengelola sampah organik dan anorganik dengan benar.
Sampah yang telah dipilah dapat ditempatkan sementara dalam wadah yang sesuai dan tertutup, kemudian disalurkan melalui sistem pengangkutan atau pengelolaan sampah yang tersedia. Sampah organik juga dapat diolah menjadi kompos dengan metode yang tepat.
Sampah tidak seharusnya ditimbun sembarangan karena berisiko mencemari tanah dan air. Oleh sebab itu, kegiatan pendidikan lingkungan perlu disertai pemahaman mengenai metode pengelolaan sampah yang aman dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dapat memahami bahwa kebiasaan tidak membakar sampah merupakan salah satu langkah untuk mengurangi sumber pencemaran udara di lingkungan permukiman.
Meski pembakaran sampah berbeda dengan karhutla di lahan gambut, keduanya berkaitan dengan persoalan kualitas udara. Karena itu, perubahan perilaku sehari-hari tetap menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang lebih sehat.
Dokumentasi kegiatan memilah dan mengelola sampah juga dapat menjadi bukti bahwa pembelajaran lingkungan tidak berhenti pada teori. Peserta didik dapat menunjukkan secara langsung bagaimana pengetahuan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kabut Asap Bisa Menjadi Bahan Pembelajaran Biologi
Persoalan kabut asap di Riau juga dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Biologi. Guru dapat mengajak peserta didik mempelajari hubungan antara kondisi cuaca, kelembapan lahan, ekosistem gambut, kebakaran, dan kualitas udara.
Peserta didik dapat mengamati data kualitas udara, mempelajari fungsi ekosistem gambut, mengidentifikasi dampak asap terhadap aktivitas masyarakat, serta mendiskusikan upaya pencegahan kebakaran dan pencemaran.
Kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi proyek sederhana, seperti kampanye tidak membakar sampah, poster edukasi pencegahan karhutla, pemilahan sampah di sekolah, atau laporan pengamatan lingkungan.
Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar menganalisis persoalan lingkungan dan menentukan tindakan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan mereka.
Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus selalu berbentuk kegiatan berskala besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter peduli lingkungan.
Pencegahan Karhutla Membutuhkan Kesadaran Bersama
Kondisi kabut asap yang kembali terjadi menjadi pengingat bahwa pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, petugas di lapangan, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menjaga lingkungan.
Informasi BMKG mengenai kondisi musim dan potensi cuaca perlu terus dipantau untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi karhutla. Perubahan cuaca maupun jumlah titik panas juga perlu menjadi bahan evaluasi dalam menentukan langkah pencegahan di wilayah rawan kebakaran.
Di sisi lain, pendidikan dapat menjadi salah satu cara untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Peserta didik perlu memahami bahwa menjaga udara bersih tidak hanya berkaitan dengan penanganan asap ketika kebakaran terjadi, tetapi juga dengan kebiasaan sehari-hari yang dapat mengurangi pencemaran.
Bagi Riau, pedagogi hijau dapat menjadi jembatan antara persoalan lingkungan lokal dan proses pembelajaran. Gambut, hutan, sungai, udara, serta sampah bukan sekadar materi pelajaran, melainkan bagian dari ruang hidup yang perlu dijaga bersama.
Ketika peserta didik dilibatkan dalam kegiatan nyata, mereka belajar memahami hubungan antara tindakan manusia dan dampaknya terhadap lingkungan. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab.
Pada akhirnya, karhutla bukan hanya persoalan api. Di dalamnya terdapat persoalan ekosistem, tata kelola lahan, kondisi cuaca, perilaku manusia, kesehatan, kualitas udara, dan keberlanjutan lingkungan yang saling berkaitan.
Di tengah kabut asap yang kembali menyelimuti Riau, pesan pedagogi hijau menjadi semakin relevan: menjaga lingkungan perlu dimulai dari pengetahuan, dibangun melalui kebiasaan, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dari ruang kelas, lingkungan sekolah, hingga rumah, membiasakan diri untuk tidak membakar sampah dan menerapkan pengelolaan sampah yang benar merupakan langkah sederhana untuk mengurangi pencemaran udara.
Penulis: Adelia Chelsa Prihatini
Catatan sumber: Informasi mengenai perpanjangan PJJ dan kondisi kualitas udara Pekanbaru merujuk pada publikasi Pemerintah Kota Pekanbaru serta laporan pemantauan yang diberitakan pada 7–8 Oktober 2026. Data titik panas merujuk pada laporan pemantauan BMKG yang dikutip media pada 8 Oktober 2026. Pembahasan mengenai karakteristik ekosistem gambut dan pedagogi hijau merupakan konteks edukasi lingkungan.

Berita Lainnya
Kolaborasi DPC Grib Jaya Kabupaten Bengkalis_ PT STRUM lounching Perdana di Perkebunan PT Adei Pinggir
Datuk Bisai Edyanus: Masyarakat Adat Ingatkan Pemerintah Tuntaskan Kisruh Siberakun dan PT DPN
Syahroni Siregar Kami Sudah Dapat Izin dari BPBD, Trio Beni Sebut Tim Covid-19 Inhil Tidak ada Keluarkan Izin Seminar di Engku Kelana
Peduli Korban Kebakaran, Perkumpulan Pedagang Subuh Riau Serahkan Bantuan Sembako
Begini Penjelasan Dinkes Inhil Terkait Dugaan 'Mark Up' Pengadaan Barang dan Jasa Penanggulangan Covid-19
Presiden Harus Mencabut Izin Korporasi Untuk Keselamatan Warga dan Kelestarian Habitat Harimau Sumatera!
Tingkatkan Soladaritas Sesama, Alumi 87 SMP 02 Tembilahan Hulu Gelar Aksi Sosial 'Peduli Musibah Kebakaran'
Milad ke-63, Masyarakat Riau Mendoakan Sang Visioner 'Rusli Zainal' Segera Bebas
Hasil Survei Perbaikan Jembatan Pesajian Sudah Keluar, Bupati Inhu Apresiasi P2JN Riau
"DAS" Desa Danau Baru Kian Semakin Rusak Diduga Akibat Tambang Liar, Tomas Angkat Bicara
Wah..Diduga TV Kabel Indones DURI Buat Warga Kesal, Berniat Mau Dilaporkan Ke Polsek Mandau
Warning! Inilah Lima Kasus Penyelewengan Bansos Covid-19 di Riau