Muhasabah Ibadah: Jangan Sampai Sunnah Menghalangi Wajib
BUALBUAL.com - Di tengah gelombang spiritualitas instan yang kian marak, kita menyaksikan sebuah paradoks yang menggelisahkan. Ritual sunnah tampil semarak—umrah berulang, sedekah daring yang viral—namun pada saat yang sama, fondasi kewajiban justru tampak rapuh. Ada yang rela menjual kebun kelapa demi perjalanan ibadah, tetapi membiarkan lilitan ekonomi keluarga tak tersentuh. Ada semangat besar mengejar pahala sunnah, sementara shalat lima waktu—tiang agama—sering kali bolong. Tidakkah ini pertanda bahwa kompas keberagamaan kita perlu dikalibrasi ulang?
Di balik semarak itu, muncul pertanyaan kritis yang mengetuk nurani: jangan-jangan kita sedang terjebak dalam “kompetisi ibadah” yang tampak di mata manusia, namun lupa merawat fondasi yang justru menjadi syarat diterimanya amal. Apakah kita sibuk mengejar citra kesalehan di ruang digital, hingga lalai pada kewajiban privat kepada Allah dan tanggung jawab sosial yang lebih menentukan kualitas kehambaan? Pada titik inilah kesalehan kita diuji: apakah ia tumbuh dari ketulusan, atau sekadar menjadi perlombaan status spiritual yang semu?
Jika diamati dengan jujur, ini bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan kesalahan prioritas yang berbahaya. Ibarat membangun rumah, kita sibuk menghias atap sementara pondasinya retak. Tulisan ini mencoba menelisik kecenderungan tersebut melalui lensa psikologi spiritual al-Harits al-Muhasibi, seorang ulama ahli muhasabah abad ke-9 yang sejak lama mengingatkan bahaya tipuan halus dalam beribadah. Refleksinya relevan untuk menjadi cermin muhasabah kita hari ini: menata ulang skala nilai amal agar kesalehan tidak tampak megah di luar, tetapi rapuh di dalam.
Fondasi bangunan keimanan seorang muslim sejatinya berdiri di atas pemenuhan kewajiban (fardhu) yang jelas dan tegas. Rukun Islam—syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu—adalah pondasi beton yang tak bisa ditawar. Demikian pula kewajiban horizontal seperti menafkahi keluarga dengan layak, menuntut ilmu yang bermanfaat, serta menjaga amanah dalam pekerjaan, merupakan dinding penyangga yang membuat bangunan itu layak huni. Tanpa fondasi ini, mustahil bangunan bernama “kesalehan” dapat berdiri kokoh. Amalan sunnah, sebesar apa pun, hanyalah ornamen dan pelengkap; ia akan runtuh jika kewajiban yang mendasarinya rapuh atau bahkan absen.
Jika fondasi wajib telah kokoh, barulah amalan sunnah menemukan makna sejatinya: sebagai penyempurna dan pengangkat derajat. Ia ibarat taman yang asri atau cat yang memperindah rumah. Sunnah adalah ekspresi cinta dan syukur seorang hamba, tetapi ia tidak—dan tidak akan pernah—menjadi pengganti kewajiban. Bagaimana mungkin kita sibuk menanam bunga di taman, sementara atap rumah bocor dan dapur keluarga kosong? Mengejar sunnah dengan mengabaikan wajib adalah kesia-siaan yang hanya melahirkan ilusi kesalehan.
Di sinilah pandangan al-Harits al-Muhasibi menjadi sangat menohok. Ia mengingatkan bahwa salah satu muslihat paling halus dari setan bukanlah menghalangi manusia dari ibadah, melainkan menyesatkannya dalam urutan prioritas. Setan dapat membuat seorang hamba sibuk dan bangga dengan amalan sunnah, hingga tanpa sadar melalaikan kewajiban yang lebih mendasar. Inilah ghurur—tipuan canggih yang dibungkus kesalehan. Kita merasa telah berbuat banyak, padahal fondasi iman sedang terkikis oleh kelalaian sendiri.
Al-Muhasibi menyebut kondisi ini sebagai al-ghurur bi al-‘ibadah—tertipu oleh ibadah itu sendiri. Setan mengalihkan perhatian kita dari yang primer ke yang sekunder, dari yang wajib ke yang tambahan. Akibatnya, muncul ilusi kemajuan spiritual, padahal kita justru menjauh dari jalan yang benar. Kita merasa kaya dengan hiasan, sementara rumah keimanan belum berdiri dengan kokoh.
Lebih ironis lagi, dalam skema penipuan prioritas ini, niat dan keikhlasan sering menjadi korban pertama. Amalan sunnah yang dilakukan dengan niat riya atau ingin dipuji bukan hanya kehilangan pahala, tetapi justru merusak nilai ibadah itu sendiri. Setelah berhasil mengalihkan kita dari yang wajib, setan lalu mencemari sunnah dengan motivasi yang keliru. Apa yang tampak sebagai “lomba kebaikan” berubah menjadi pencarian pengakuan sosial. Kita bukan hanya salah prioritas, tetapi juga salah niat—terjebak dalam performa kesalehan yang hampa.
Tak heran jika kemudian muncul kontradiksi yang menyedihkan: seseorang rajin shalat dhuha atau tahajud, tetapi shalat wajib lima waktu sering terabaikan. Ada yang mudah mengeluarkan puluhan juta untuk umrah berulang, namun acuh terhadap tetangga yang kelaparan atau saudara yang kesulitan biaya pendidikan. Pola ini melahirkan kesalehan yang individualis dan egois—agama direduksi menjadi urusan privat, terpisah dari tanggung jawab sosial. Akibatnya, agama kehilangan daya transformasinya dan menyempit menjadi ritual formal yang dangkal.
Lalu, bagaimana keluar dari lingkaran kelalaian yang tampak terhormat ini? Jawabannya adalah kembali pada prinsip dasar dan muhasabah yang jujur. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan.” Ini menegaskan hierarki yang tak terbantahkan: menyempurnakan yang fardhu adalah jalan terdekat kepada Allah. Dalam konteks ini, membantu orang yang kesulitan ekonomi sering kali bukan sekadar sunnah, melainkan kewajiban sosial yang kita abaikan.
Muhasabah ala al-Muhasibi menawarkan langkah konkret. Pertama, luruskan niat: sebelum mengejar sunnah, pastikan kewajiban inti telah ditunaikan dengan ikhlas. Kedua, audit ibadah wajib secara jujur—shalat tepat waktu, zakat ketika wajib, serta pemenuhan hak keluarga. Ketiga, tata ulang prioritas: jadikan fardhu sebagai poros utama kehidupan, dan sunnah sebagai pelengkap yang mengisi ruang di sekitarnya. Dengan demikian, kita tidak sekadar menumpuk amalan, tetapi membangun fondasi hidup yang kokoh.
Pada akhirnya, kesalehan sejati bukan diukur dari banyaknya amalan sunnah, melainkan dari ketaatan yang utuh dan proporsional. Mari berhenti sejenak untuk bermuhasabah: sudahkah peta ibadah kita lurus sesuai hierarki yang ditetapkan-Nya? Ibadah bukan perlombaan pencitraan pahala, melainkan perjalanan menjadi hamba yang bertanggung jawab. Jadikan muhasabah sebagai kompas agar jalan spiritual kita tidak tersesat oleh gemerlap sunnah yang justru melalaikan kewajiban.
Penulis Oleh: Syafril
(Dosen UNISI / Mahasiswa Studi Islam UMSB)

Berita Lainnya
Terus Dijanjikan, Tak Kunjung Selesai! Nasib Jalan Kotabaru - Pulau Kijang Dipertanyakan
Mengangkat Syiar, Menjunjung Marwah: Penguatan Dakwah dan Keagamaan Berbasis Adat Melayu Riau di Kabupaten Indragiri Hilir
Senang vs Tenang : Dilema Hidup Manusia Modern
Semangat Hari Kartini, PLN NP UP Tenayan Dukung Monitoring Tumbuh Kembang Anak di TAS Ibu Mithali
Bukan Harga Kelapa! Peneliti BRIN Bongkar Akar Krisis Sebenarnya di Indragiri Hilir
Panen Lebih Cepat, Herry Rasakan Manfaat Pupuk FABA untuk Pepaya California
Chemistry Kepemimpinan: Herman - Yuliantini dan Ritme Baru Pemerintahan Inhil
Tak Sekadar Cari Lokan! Ada Pesan Besar di Balik Lomba Unik di Hutan Mangrove Siak
Dt. Dr. Junaidi, SHI., M. Hum, Pembalakan Liar dan Wajah Ekonomi Sosial Kita
Bukan Orang Kaya Raya, Tapi Kaya Hati: Kisah Fahro Rozi dan Ario Membantu Sesama
Karhutla Riau Kembali Membara, Helikopter Water Bombing Dikerahkan di Tiga Kabupaten
Senang vs Tenang : Dilema Hidup Manusia Modern