Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Islam Melayu: Rumah Toleransi yang Terlupakan
BUALBUAL.com - Di tengah gersangnya wacana keagamaan yang penuh kecurigaan, ada sebuah 'rumah' yang sejak lama rukun dan santun. Rumah itu bernama Islam Melayu. Sebuah tradisi yang justru tumbuh subur bukan dengan menebar kebencian, tetapi dengan merangkul kearifan lokal. Di sini, ayat-ayat Kitab Suci tidak berseteru dengan syair-syair tradisi; mereka justru berembuk dalam harmoni, melahirkan suatu bentuk keberagamaan yang inklusif dan membumi. Warisan inilah yang menjadi penawar paling ampuh bagi polarisasi yang menggerus rasa persaudaraan kita akhir-akhir ini.
Warisan ini berakar dari sebuah fakta sejarah yang sering terlupa: Islam tiba di Nusantara bukan dengan menghunus pedang, melainkan menyusuri jalur perdagangan dan kebudayaan. Para ulama Melayu kala itu bukanlah penakluk, melainkan pendakwah yang menjadikan kearifan lokal sebagai sahabat dialog. Dengan pendekatan yang damai dan penuh penghargaan, mereka menyulam benang-benang ajaran Islam dengan tenun budaya yang sudah ada. Dari sanalah lahir DNA toleransi yang membentuk Islam Nusantara menjadi begitu lentur dan meresap dalam jiwa masyarakat.
DNA toleransi yang lentur itupun berevolusi menjadi sebuah strategi budaya yang cerdas-bukan sekadar kompromi, melainkan sebuah sinergi yang hakiki. Dalam sinergi ini, Islam tidak hadir untuk menghancurkan fondasi budaya lokal yang sudah berdiri kokoh. Sebaliknya, ia melakukan penyaringan yang halus, mengisi setiap ruang tradisi dengan nafas nilai-nilai tauhid. Proses transformasi yang damai inilah yang sesungguhnya menjadi manifestasi awal dari moderasi beragama (wasathiyyah), jauh sebelum istilah itu populer dalam wacana keagamaan modern Indonesia saat ini.
Dari manifestasi wasathiyyah yang damai itulah lahir sebuah rumusan genius yang menjadi penopang utama rumah toleransi tersebut: "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah". Falsafah ini bukan sekadar pepatah, melainkan konstitusi tidak tertulis yang mengatur harmoni antara tradisi lokal (adat) dan hukum Islam (syarak). Dalam rumusan ini, keduanya tidak berjalan beriringan bagai dua rel yang sejajar, melainkan saling menguatkan layaknya sebuah bangunan yang disangga tiang utama. Syarak memberikan jiwa dan arah moral pada adat, sementara adat memberikan tubuh dan bahasa yang membumi bagi syarak. Sinergi simbiosis inilah yang mencegah konfrontasi dan menjadikan Islam Melayu sebuah living organism yang lentur namun kokoh.
Kekokohan bangunan simbiosis itu terpancar nyata dalam tindakan.
Falsafah "Hidup Berkumpulan, Hiduplah Berjiran" mengkristal menjadi solidaritas sosial yang tak memandang sekat, mewujud dalam tradisi gotong royong dimana seluruh warga - lintas suku dan keyakinan - bersama menjaga keutuhan "kampung" mereka. Sementara itu, ajaran "Alam Takambang Jadi Guru" mengalir dalam kesadaran kolektif untuk senantiasa rendah hati. Perbedaan dalam alam raya - dari aneka flora hingga fauna - dipandang sebagai cerminan kebesaran Ilahi (sunnatullah) yang wajib dihormati, bukan dipertentangkan. Dalam diamnya sungai dan rimbunnya hutan, masyarakat Melayu belajar merayakan kebhinekaan.
Dari kesadaran untuk merayakan kebhinekaan itulah lahir bukti-bukti nyata yang dapat kita saksikan hingga hari ini. Salah satu jejak toleransi yang paling hidup adalah tradisi Berdah yang mengakar dalam budaya masyarakat Melayu, antara lain, seperti di Kecamatan Mandah, dan Kecamatan GAS Indragiri Hilir.
Dalam tradisi ini, lantunan pujian bagi Nabi Muhammad Saw beserta nasehat-nasehat kehidupan yang merupakan pesan sya’ir berdah tidak dibacakan dalam kesunyian, tetapi justru dihidupkan dengan irama gendang rebana yang berdenyut khas Melayu. Ini adalah perwujudan sempurna dari "Adat Bersendi Syarak", di mana ekspresi budaya lokal menjadi medium yang menghidupkan dan menyebarkan nilai-nilai spiritual Islam. Ritual ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang di mana kecintaan pada Rasulullah dan kecintaan pada budaya menyatu dalam satu nafas yang harmonis.
Dalam ruang harmonis yang menyatu dalam satu nafas inilah, wujud nyata "rumah toleransi" itu hadir. Sebuah ruang di mana seseorang dapat menjadi Muslim yang kaffah tanpa merasa terancam oleh akar budayanya sendiri. Sekaligus menjadi orang Melayu yang bangga, tanpa perlu mengorbankan sejumrah pun nilai-nilai Islam yang dianutnya.
Di sini, identitas bukanlah dilema, melainkan sebuah rangkuman yang utuh dan saling menguatkan-sebuah warisan tentang bagaimana iman dan budaya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirangkul dalam satu kesatuan yang padu.
Lantas, di tengah dunia yang tercabik oleh benturan identitas dan klaim kebenaran tunggal, apa gunanya warisan yang utuh dan padu ini bagi kita hari ini? Justru di sinilah relevansinya: Islam Melayu hadir menawarkan "jalan ketiga" yang menjawab kegelisahan zaman.
Ia adalah benteng terhadap sekularisme ekstrem yang meminggirkan agama, sekaligus penawar bagi fundamentalisme yang meminggirkan kearifan lokal. Warisan ini bukan lagi sekadar nostalgia, melainkan sebuah peta jalan sebuah model keindonesiaan yang asli tentang bagaimana menjadi pribadi yang religius tanpa kehilangan sikap inklusif dan santun.
Model keindonesiaan yang asli inilah yang kita sebut sebagai "jalan ketiga" Islam Melayu. Sebuah jalan yang menolak dikotomi ekstrem: bukan sekularisme yang meminggirkan agama dari ruang publik, bukan pula fundamentalisme yang meminggirkan budaya dari ruang spiritual.
Ia adalah sintesis sempurna yang melahirkan pribadi yang religius sekaligus santun, beriman kokoh namun inklusif dalam bersikap. Dalam warisan hidup ini, kita menemukan resep sosial yang langka: cara menjadi warga dunia modern tanpa meninggalkan jati diri, dan cara beragama dengan penuh keyakinan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Marilah kita pulang. Kembali merengkuh warisan bahwa Melayu dan Islam adalah rumah, bukan sekadar label. Rumah yang memanggil kita untuk menghidupkan kembali santun dalam sikap, rukun dalam perbedaan, dan keyakinan bahwa iman dan toleransi adalah dua sisi mata uang yang sama. Di sini, kita tak butuh impor teori moderasi, karena jawabannya telah menanti: pulang dan belajar pada kearifan nenek moyang kita sendiri.
Penulis : Syafril (Dosen UNISI-Pengurus LAMR Inhil bidang Pengembangan Kajian Islam)
.jpg)

Berita Lainnya
Ketegasan Beradab, Teguran Berhikmah Jalan LAMR Menjaga Martabat Melayu
Di Tengah Polemik UHC, Publik Diminta Lihat RAPBD 2026 Secara Utuh
Muhasabah Ibadah: Jangan Sampai Sunnah Menghalangi Wajib
Dandim 0314/Inhil Monitoring Proyek Koperasi, Cegah Penyimpangan
Integritas KPK di Penangkapan Gubernur Riau, Abdul Wahid
Anggaran Dipangkas, Program Mandek, Gaji Tak Terbayar, Jabatan Kades Tak Lagi Menggiurkan
Mengurai Kisruh Pinjaman Inhil: Kolaborasi Lebih Penting daripada Polemik
Apakah Oknum DPRD Dapat Mengelola Program MBG/ PGN?
Dari Pekanbaru, HIPPMA Insel Sampaikan Dukungan Terhadap Pinjaman 200 M Pemkab Inhil
Di Atas Minyak, di Bawah Antrean: Derita Rakyat Riau Cari BBM, Potret Gagalnya Tata Kelola Energi?
Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Muhasabah Ibadah: Jangan Sampai Sunnah Menghalangi Wajib