Kelapa Inhil Terjun Bebas
Dari Rp7.000 Jadi Rp1.800/Kg, IPRY Desak Pemerintah Pusat Perkuat Pasar Kelapa Inhil
BUALBUAL.com - Harga kelapa di Indragiri Hilir kembali anjlok hingga sekitar Rp1.800 per kilogram pada akhir Juli 2026, jauh di bawah harga yang sebelumnya mencapai sekitar Rp7.000 per kilogram. Ikatan Pemuda Riau Yogyakarta (IPRY) Komisariat Indragiri Hilir menilai kondisi tersebut menunjukkan kerentanan struktur pasar kelapa yang masih kuat bergantung pada permintaan ekspor.
Ketua IPRY Komisariat Indragiri Hilir, Rifky Lianto, mengatakan pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya sesuai kewenangannya. Namun, persoalan harga kelapa tidak sepenuhnya dapat diselesaikan di tingkat daerah karena berkaitan dengan perdagangan, industri dan struktur permintaan yang lebih luas.
“Daerah sudah melakukan berbagai upaya, tetapi persoalan ini tidak bisa diselesaikan daerah sendiri. Ketika harga kelapa juga dipengaruhi pasar ekspor, pemerintah pusat harus mengambil peran untuk memperkuat pasar domestik dan menciptakan permintaan yang lebih beragam,” ujar Rifky.
Menurutnya, pemerintah pusat perlu mengonsolidasikan industri nasional untuk mengembangkan produk hilir berbahan baku kelapa, bukan hanya mengandalkan perdagangan kelapa sebagai komoditas mentah. Produk turunan tersebut juga perlu diperluas penggunaannya dan distribusinya di pasar dalam negeri.
“Kalau industri hilir kelapa diperkuat, kita tidak hanya bergantung pada pasar ekspor. Pemerintah pusat perlu mendorong dan mempertemukan industri dengan daerah penghasil agar kelapa dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang diserap pasar domestik,” katanya.
Rifky menilai penguatan pasar domestik tidak serta-merta menjamin harga petani, tetapi dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap permintaan ekspor dan memperkuat struktur permintaan kelapa dalam negeri.
Karena itu, IPRY mendorong pemerintah pusat menjadikan persoalan kelapa sebagai agenda kebijakan nasional melalui konsolidasi industri hilir, penguatan pasar domestik, dan pembenahan posisi petani dalam rantai nilai. Menurutnya, hilirisasi harus diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan nilai produk, tetapi juga memastikan manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat di daerah penghasil.
“Persoalannya bukan sekadar bagaimana harga kelapa naik ketika sedang jatuh. Yang lebih penting adalah bagaimana negara membangun struktur pasar yang lebih kuat, sehingga petani tidak terus berada dalam siklus yang sama setiap kali pasar ekspor mengalami tekanan,” ujar Rifky.

Berita Lainnya
Cegah Demam Berdarah, Relawan INSANI Lakukan Fogging
BBM Solar Langka Di Bantan Bengkalis
Dari Rakorwil ke Aksi Nyata: PSI Inhil Ikut Lepas Bantuan untuk Korban Bencana Sumbar
Jelang Pelantikan, HIPMAWAN Jakarta Harapkan Dukungan Pemkab Pelalawan untuk Generasi Muda
Lewat Udara, Polres Inhu Sampaikan Pesan Keselamatan Hingga ke Pelosok
Petani Muda Inhil Berhasil Hantarkan Gapoktan Muara Baru Juara 1 Tingkat Nasional
LPTQ Inhil Sebut Masalah Identitas Khairul Fata Hanya Bisa Diperjuangkan Sebagai Qori Cadangan
PLN Nusantara Power UP Tenayan Perkuat Ekonomi Hijau Warga Okura di Hari Buruh Nasional
Tanjak dan Selempang Resmi Digunakan, LAMR Inhil Tegaskan Simbol Kehormatan Melayu
Terus Bergerak Ditengah Wabah Covid 19, Relawan Anggota DPR RI Effendi Sianipar Bagi Sembako ke Warga
Camat Selayar Bersama Himpunan Melayu Raya Lingga Serahkan Bantuan kepada Korban kebakaran
Jalan Rusak Diperbaiki, Kejari Lingga Bawa Pesan Keras: ''Jangan Biarkan Judi Online Merusak Masyarakat!''