Pedagogi Hijau Tak Boleh Berhenti!
Karhutla Tak Cukup Dilawan dengan Pemadaman, Pendidikan Lingkungan Jadi Kunci Pencegahan
PEKANBARU, BUALBUAL.com – Kabut asap kembali menjadi perhatian di Riau. Pada Kamis (8/10/2026), pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 220,3 µg/m³ pada pukul 14.00 WIB dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
Kabut asap yang semakin pekat memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak dapat dilihat hanya berdasarkan ada atau tidaknya titik panas pada suatu waktu. Asap dapat berasal dari sumber kebakaran di wilayah lain dan terbawa angin, sementara kondisi lahan yang kering tetap meningkatkan risiko kebakaran.
Karena itu, upaya pencegahan harus berjalan beriringan dengan penanganan kebakaran di lapangan.
Bagi Riau, perhatian terhadap lahan gambut menjadi sangat penting. Gambut menyimpan bahan organik dalam jumlah besar serta memiliki fungsi ekologis penting, termasuk menyimpan air dan karbon. Ketika kondisi hidrologinya terganggu dan gambut mengering, risiko kebakaran meningkat.
Kebakaran di lahan gambut juga dapat menghasilkan asap pekat dan membutuhkan penanganan yang tidak sederhana.
Persoalan tersebut sebenarnya dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Di sinilah pedagogi hijau atau green pedagogy memiliki peran penting.
Pedagogi hijau menempatkan lingkungan dan keberlanjutan bukan sekadar sebagai materi yang dibicarakan di dalam kelas, tetapi sebagai konteks nyata yang dapat diamati, dianalisis, dan ditindaklanjuti oleh peserta didik.
Karhutla di Riau dapat menjadi contoh nyata bagaimana pembelajaran Biologi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa dapat mempelajari ekosistem gambut, siklus air, siklus karbon, pencemaran udara, keanekaragaman hayati hingga dampak perubahan penggunaan lahan.
Mereka juga dapat diajak memahami hubungan antara penyebab kebakaran dengan dampaknya terhadap kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.
Pembelajaran semacam ini penting karena pendidikan lingkungan tidak cukup hanya membuat siswa mengetahui bahwa hutan harus dijaga. Siswa perlu memahami hubungan sebab-akibat dan melihat bahwa tindakan manusia terhadap lingkungan memiliki konsekuensi.
Pertanyaan sederhana seperti mengapa gambut mudah terbakar, mengapa asap dapat mengganggu proses pembelajaran, dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegahnya dapat menjadi awal pembentukan kemampuan berpikir kritis.
Implementasi pedagogi hijau juga dapat dimulai dari kegiatan sederhana. Penanaman pohon dalam kegiatan Pekan Penghijauan, seperti terlihat dalam dokumentasi kegiatan ini, merupakan salah satu contoh pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan tindakan.
Peserta didik tidak hanya mendengar penjelasan mengenai pentingnya vegetasi, tetapi juga terlibat langsung dalam menanam dan merawat tanaman.
Namun, kegiatan menanam pohon tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Setelah penghijauan, siswa dapat diajak mengamati pertumbuhan tanaman, membahas perannya dalam ekosistem, menghitung kebutuhan air, mengamati kondisi tanah, hingga mendiskusikan hubungan tutupan vegetasi dengan kualitas lingkungan.
Dengan demikian, satu kegiatan sederhana dapat berkembang menjadi pengalaman belajar yang utuh.
Kegiatan penghijauan juga menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dilakukan secara kolaboratif. Peserta bersama-sama menyiapkan lahan dan menanam pohon di kawasan terbuka dekat aliran sungai.
Pengalaman langsung seperti ini dapat membangun rasa memiliki terhadap lingkungan sekaligus memperkuat kepedulian kolektif.
Di tengah kabut asap yang kembali menjadi perhatian, pendidikan semestinya tidak hanya hadir ketika kondisi sudah memburuk. Sekolah dan perguruan tinggi dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran pencegahan sejak awal.
Isu karhutla dapat dibahas sebelum memasuki musim rawan, sehingga siswa memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar respons sesaat terhadap bencana, melainkan kebiasaan yang perlu dibangun secara berkelanjutan.
Pedagogi hijau juga membuka kesempatan bagi guru untuk menjadikan lingkungan sekitar sebagai laboratorium belajar. Kondisi udara, vegetasi, sungai, lahan terbuka, dan ekosistem gambut dapat menjadi objek pengamatan.
Dari sana, siswa dapat mengumpulkan data sederhana, berdiskusi, membuat proyek lingkungan, dan menyusun solusi berdasarkan kondisi nyata di daerahnya.
Bagi Riau, pendekatan tersebut semakin relevan karena persoalan lingkungan memiliki karakter lokal yang kuat. Gambut, hutan, sungai, dan kawasan pesisir bukan sekadar istilah dalam buku pelajaran, tetapi bagian dari ruang hidup masyarakat.
Ketika pembelajaran mengambil konteks tersebut, siswa dapat memahami bahwa ilmu yang dipelajari memiliki hubungan langsung dengan masa depan daerahnya.
Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan api. Di baliknya terdapat persoalan tata kelola lahan, kondisi ekosistem, perilaku manusia, kualitas udara, kesehatan, dan keberlanjutan.
Karena itu, upaya pencegahan juga membutuhkan perubahan pengetahuan dan perilaku. Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk membangun perubahan tersebut dalam jangka panjang.
Ketika seorang siswa menanam satu pohon, tindakan itu mungkin terlihat sederhana. Namun, jika kegiatan tersebut disertai pemahaman tentang fungsi ekosistem, perawatan, pengamatan, dan refleksi, proses tersebut dapat menjadi pengalaman pendidikan yang membentuk kepedulian.
Inilah salah satu esensi pedagogi hijau: menjadikan lingkungan bukan hanya sebagai objek yang dipelajari, tetapi juga sebagai ruang tempat manusia belajar bertanggung jawab.
Kabut asap yang kembali menebal di Riau menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan belum selesai hanya karena satu periode kebakaran berhasil ditangani. Pencegahan perlu dilakukan terus-menerus, termasuk melalui pendidikan.
Dari ruang kelas hingga kegiatan penghijauan di lapangan, generasi muda dapat dibekali pengetahuan dan pengalaman agar tidak hanya memahami kerusakan lingkungan, tetapi juga memiliki keberanian untuk ikut menjaganya.
Penulis: Rosmayani Lubis

Berita Lainnya
Tingkatkan Soladaritas Sesama, Alumi 87 SMP 02 Tembilahan Hulu Gelar Aksi Sosial 'Peduli Musibah Kebakaran'
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Untuk Empat Daerah di Riau, Salah Satunya Inhil
Tim Gabungan Tangkap Perambah di SM Giam Siak Kecil Riau
BRI KC Sudirman Pekanbaru Sudah Kembali Beroperasi
Peduli Covid-19, PT THIP Inhil Sudah Salurkan Bantuan 1000 Paket Sembako 200 Baju APD Serta 3000 Sarung Tangan
DPW LPLHI-KLHI Prov.Riau Pantau Dampak Kerusakan Lingkungan di Pusat Semburan Lumpur & Gas Tekanan Tinggi Tenayan Raya
Bersinergi dengan BKKBN Riau, Dinas DP2KBP3A Kabupaten Inhil Meggelar TPPS
Sambu Group Serahkan Bantuan 1000 Botol Minuman dan Susu Cair Serta Masker ke RSUD Raja Musa Sungai Guntung
Aneh Bin Ajaib, Kolam Limbah B3 Jebol Tanpa Ada Sanksi Hukum
Disdukpencapil Inhil Layanan Online Sudah Dibuka, Manual Diwacanakan Akan Ditutup
3 Pulau di Riau Terancam Hilang, GN Lamantera bersama 3 Pihak Bergerak Cepat
Kapolda Riau Padamkan Karhutla di Perbatasan Dumai-Bengkalis