Green Pedagogy Dorong Siswa Peduli Lingkungan
Dari Ruang Kelas ke Gambut, Green Pedagogy Jadi Cara Baru Belajar Lingkungan di Riau
BUALBUAL.com - Pendidikan lingkungan di Riau tidak cukup hanya mengajarkan siswa membuang sampah pada tempatnya atau menanam pohon. Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, persoalan sampah, hingga kerusakan ekosistem gambut dan pesisir, sekolah memiliki peran lebih besar dalam membentuk generasi yang memahami lingkungan sekaligus mampu mengambil tindakan untuk menjaganya.
Gagasan tersebut sejalan dengan konsep green pedagogy atau pedagogi hijau, yakni pendekatan pembelajaran yang menempatkan lingkungan, keberlanjutan, serta hubungan manusia dengan alam sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar mengenai lingkungan di dalam ruang kelas. Mereka juga diajak mengenali persoalan ekologis yang terjadi di sekitar, memahami penyebab dan dampaknya, kemudian terlibat dalam mencari solusi.
Riau sendiri memiliki beragam persoalan lingkungan yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran nyata bagi peserta didik. Karhutla dan kabut asap, misalnya, bukan sekadar isu yang diberitakan media. Dampaknya dapat dirasakan langsung masyarakat, termasuk terganggunya aktivitas pendidikan.
Ketika kualitas udara menurun akibat kabut asap, proses belajar mengajar ikut terdampak. Karena itu, persoalan karhutla semestinya tidak hanya dibahas ketika bencana terjadi, tetapi dapat menjadi bagian dari pembelajaran untuk memahami ekosistem gambut, perubahan lingkungan, pencemaran udara, kesehatan manusia, hingga perilaku yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Upaya menghubungkan karakteristik lingkungan daerah dengan pendidikan juga telah memiliki pijakan di Riau. Provinsi Riau sebelumnya telah meluncurkan pendidikan gambut dan mangrove sebagai materi muatan lokal pada jenjang SMA dan SMK.
Materi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana kondisi lingkungan khas Riau dapat diintegrasikan secara langsung ke dalam proses pembelajaran di sekolah.
Implementasi green pedagogy juga tidak harus dimulai dari kegiatan besar. Lingkungan sekolah sendiri dapat menjadi ruang belajar yang sederhana namun bermakna.
Kegiatan gotong royong, penghijauan, penanaman pohon, pemilahan sampah, penggunaan kembali barang yang masih layak, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pemeliharaan sanitasi dan drainase dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa.
Sebab, pendidikan lingkungan tidak akan optimal jika hanya berhenti pada penyampaian teori. Siswa perlu mengalami secara langsung bagaimana menjaga lingkungan.
Ketika siswa memilah sampah, merawat tanaman, membuat kompos, mengamati kondisi drainase sekolah, atau melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar, mereka belajar bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Dalam pembelajaran Biologi, misalnya, lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium terbuka. Guru dapat mengajak siswa mengidentifikasi jenis sampah, mengamati keanekaragaman hayati, mempelajari kualitas air, mengukur kondisi lingkungan, hingga menganalisis hubungan antara aktivitas manusia dengan perubahan ekosistem.
Dengan cara tersebut, pembelajaran tidak hanya berhenti pada pertanyaan “apa yang terjadi pada lingkungan?”, tetapi berkembang menjadi “mengapa hal itu terjadi, siapa yang terdampak, dan apa yang dapat kita lakukan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat mendorong siswa berpikir kritis sekaligus memahami bahwa pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan bagi Riau yang memiliki ekosistem gambut dan mangrove dengan nilai ekologis penting. Persoalan lingkungan yang ada di daerah seharusnya tidak terasa jauh dari dunia pendidikan, tetapi justru menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta didik.
Pada akhirnya, green pedagogy bukan sekadar upaya membuat lingkungan sekolah terlihat lebih hijau. Lebih dari itu, pendekatan ini bertujuan membentuk cara berpikir dan kebiasaan baru.
Sekolah dapat menjadi tempat siswa memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun petugas kebersihan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
Riau memiliki persoalan lingkungan yang nyata. Karena itu, pendidikan juga perlu hadir dengan pengalaman yang nyata.
Mulai dari ruang kelas, halaman sekolah, lingkungan sekitar, hingga ekosistem gambut dan pesisir, semuanya dapat menjadi ruang belajar untuk membentuk generasi yang tidak hanya memahami lingkungan, tetapi juga peduli dan berani mengambil bagian dalam menjaganya.
Jika pendidikan mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman dan tindakan, sekolah tidak hanya menghasilkan siswa yang mengetahui tentang lingkungan. Lebih jauh, sekolah dapat membentuk generasi yang peduli, mampu berpikir kritis, serta terbiasa mengambil tindakan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan Riau.
Penulis: Fika Nurfahriza

Berita Lainnya
KLHK Apresiasi Upaya PHR Cegah Konflik Gajah dengan Manusia dan Lestarikan Keanekaragaman Hayati
DP2KBP3A Gelar Rapat Persiapkan Sejumlah Aspek, Indragiri Hilir Siap Jadi Kota Layak Anak 2024
Nasib Masjid An-Nur Desa Air Tawar Kecamatan Kateman, Sangat Membutuhkan Dana Perbaikan
Pembangunan Turap Penahan DAS di Desa Danau Baru Inhu Terindikasi Melanggar Aturan
Walhi Menilai Penertiban Kebun Sawit Ilegal Hanya 'Gertak Sambal' Pemprov Riau
Ratusan Masyarakat Riau Gelar Aksi Solidaritas Bela Palestina di Tugu Perjuangan
Warga Inhil Harus Tahu! Inilah Alasan Pemda Belum Usulkan Pemberlakuan PSBB
Terkait Sengketa Lahan di Sungai Bela, Bupati Inhil Akan Hadirkan Oknum yang Terlibat
Ape Pasal! Oknum Pegawai Pemkab Inhil, Diduga Ganti Plat Kendaraan Dinas Jadi Plat Pribadi
Tagihan Listrik Masyarakat Melonjak Pada Bulan Juni, PLN Jelaskan Skema Hitungan
Selamatkan Pemukiman Masyarakat, Sambu Group Bangun Tanggul di Desa Air Tawar Kateman
Sambu Group, Perusahaan PMDN yang Raih 2 Kategori Penghargaan dalam Riau Investment Award 2023