PILIHAN
Kurikulum Pendidikan Reproduksi dan Kejahatan Seksual Anak Segera Terbit
BualBual.com - Jakarta, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) segera menerbitkan kurikulum baru pada akhir tahun 2016. Kurikulum tersebut nantinya akan berisikan mengenai pendidikan reproduksi seksual dan kejahatan seksual.
Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu, mengatakan, kurikulum tersebut merupakan bagian dari Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perlindungan Khusus Anak dari Kejahatan Seksual.
"Jadi memang kementerian PPPA sudah menyusun PP Perlindungan Khusus sejak dua tahun yang lalu. Kita harap tahun ini sudah selesai," ujar Pribudiarta usai kampanye keselamatan anak-anak Indonesia dari dampak buruk internet di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (2/10/2016).
Menurut Pribudiarta, penerbitan PP ini, baik dalam buklet maupun kurikulum penting dilakukan. Pasalnya, kejahatan seksual terhadap anak, khususnya melalui dunia maya tengah marak terjadi.
"Kami memajukan PP ini segera karena isu ini serius. Sekarang menjadi penting," ucap Pribudiarta.
Dia menuturkan, 12,7 persen dari 87 juta anak Indonesia menjadi korban kejahatan seksual. Data tersebut didapatkan dari survei yang dilakukan Kemen PPPA bersama Badan Pusat Statistik dan Kementerian Sosial pada 2013 silam.
"Ada 4,2 persen dari data tersebut anak perempuan, sedangkan 8,5 persen adalah anak laki-laki," tambah Budiarta.
Dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak berbasis online, tutur Pribudiarta, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sejak 2011 hingga 2014, jumlah anak korban pornografi dan kejahatan online di Indonesia mencapai 1.022 anak.
"Dengan rincian, anak-anak yang menjadi korban pornografi online sebesar 28 persen, pornografi anak online 21 persen, prostitusi anak online 20 persen, objek cd porno 15 persen, dan anak korban kekerasan seksual online 11 persen," tambah Pribudiarta.
Adapun hasil survei yang dilakukan oleh KPPPA dengan Katapedia, paparan pornografi sebanyak 63.066 melalui google, diikuti instagram, news online, dan lain-lain.
Sementara itu, berdasarkan data Bareskrim Polri melalui laporan NCMEC (National Center of Missing & Exploited Children), jumlah Internet Protocol (IP) Indonesia yang melakukan pengunduhan dan pengunggahan konten pornografi anak melalui media sosial pada 2016 hingga bulan Maret sebanyak 96.824 IP.
"Facebook dan Twitter merupakan media jejaring sosial yang paling banyak digunakan user untuk download/upload konten pornografi anak," ucapnya.
Atas dasar tersebut, Pribudiarta berharap PP ini dapat mencegah adanya kejahatan seksual terhadap anak.
"Kami juga harapkan upaya pencegahan bisa dilakukan secara bersama karena tidak bisa diatur oleh satu unit, tapi harus melibatkan organisasi dan masyarakat," tambahnya.
kompas.com

Berita Lainnya
Aksi Serupa Dimas Kanjeng, Ustaz Ini Juga Bisa Gandakan Uang Dari Kantong Plastik
Menag Siap Membantu KPK Ungkap Dugaan Jual Beli Jabatan
Pesta Ala Karnaval Jalanan di Penutupan Olimpiade Rio
Inilah Kesimpulan Nasib Honorer K2 yang Dibahas di DPR
Alhamdulillah.... Salman, Siswa Korban Tertimpa Pagar Sekolah Kini Telah Siuman
Pengembangan Toga, Isdianto Dukung 1.000 Persen
Ratusan Kader PKS Riau Turun Kejalan Beri Dukungan Ke Palestina
PDP Asal Kuansing Meninggal Dunia di RS Awal Bros Pekanbaru
Bupati Inhil HM. Wardan Lantik Pj Kepala Desa Harapan Jaya Kecamatan Tempuling
MPI Tunjukkan Perhatian Besar Terhadap Kasus DBD di Inhil
Pemprov Riau Anggarkan Rp 50 Miliar Bangun Gedung Makorem 031
Gerindra Akan Resmikan Prabowo Jadi Capres pada 6 Februari?