PILIHAN
Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
01 Maret 2026
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
27 Januari 2026
Dengan Alasan Meninggal Dunia, Dinsos Inhil Nonaktifkan PBI- BPJS Ibuk Parijam, Saya Masih Hidup Pak Bupati!
BUALBUAL.com, Warga Jl. Lingkar Jadi RT 016 RW 002 Kelurahan Sungai Beringin Kecamatan Tembilahan Parijam (52), sempat dinyatakan meninggal dunia dan kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dinonaktifkan oleh dinas terkait.
Saat ditemui di rumahnya, Parijam mengaku heran terhadap pernyataan tersebut lantaran ia masih aktif berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada Tembilahan beberapa bulan terakhir.
"Saya terkejut saat anak saya mau ambil obat di apotik rumah sakit, saat dicek di komputer kartunya tak aktif dan nama saya dibuat sudah meninggal," jelas nenek yang tengah menderita sakit jantung ini, Selasa (26/3/2019).
[caption id="attachment_47636" align="alignnone" width="1280"]
Ibuk Parijam[/caption]
Walaupun kondisi ekonomi di bawah rata-rata, namun untuk tetap bisa mendapatkan pelayanan BPJS kesehatan, Parijam terpaksa dialihkan menjadi peserta mandiri dan membayar beban iuran perbulan sebesar 25.500 Rupiah. "Saya bayar setiap bulan walaupun uang pas-pasan agar bisa menebus obat yang harus saya minum rutin setiap minggunya," ujarnya kembali.
Selain Parijam yang dinyatakan meninggal, Suaminya atas nama Rusmadi (67) juga dinyatakan sudah mampu, padahal, untuk memasak nasi dan lauk di rumah masih menggunakan kayu bakar.
"Saya dibilang meninggal, bapaknya dibilang mampu, padahal saya masih rutin berobat dan bapaknya masih cari upah nebas rumput dengan orang lain. Lihat dapur saya masih menggunakan kayu bakar, jadi dimana bisa dibilang mampu," katanya.
Sementara itu, Juwita anak dari pasangan Parijam dan Rusmadi yang sering mengambil obat orang tuanya katakan, pernyataan ibunya meninggal tersebut dia dapatkan saat mau mengambil obat di RSUD PH, ketika itu tiba-tiba dia kartu BPJS yang digunakan tidak aktif dan setelah dicek ternyata sudah terlampir di dalam komputer bahwa Parijam sudah meninggal.
"Sekitar 6 bulan yang lalu saya ke rumah sakit, pas mau menggunakan BPJS katanya petugasnya tidak bisa digunakan lagi karena ibu saya sudah dinyatakan meninggal dan saya juga langsung baca data tersebut di komputer petugas rumah sakit. Sejak itu kami menggunakan jalur mandiri agar masih bisa berobat gratis," imbuhnya.
Kepala Dinas Sosial, Syaifuddin saat dikonfirmasi melalui selulernya tidak mengangkat telpon. Hingga berita ini diterbitkan pihak Dinsos belum memberikan klarifikasi atau jawaban***
Editor: Ucu
Ibuk Parijam[/caption]
Walaupun kondisi ekonomi di bawah rata-rata, namun untuk tetap bisa mendapatkan pelayanan BPJS kesehatan, Parijam terpaksa dialihkan menjadi peserta mandiri dan membayar beban iuran perbulan sebesar 25.500 Rupiah. "Saya bayar setiap bulan walaupun uang pas-pasan agar bisa menebus obat yang harus saya minum rutin setiap minggunya," ujarnya kembali.
Selain Parijam yang dinyatakan meninggal, Suaminya atas nama Rusmadi (67) juga dinyatakan sudah mampu, padahal, untuk memasak nasi dan lauk di rumah masih menggunakan kayu bakar.
"Saya dibilang meninggal, bapaknya dibilang mampu, padahal saya masih rutin berobat dan bapaknya masih cari upah nebas rumput dengan orang lain. Lihat dapur saya masih menggunakan kayu bakar, jadi dimana bisa dibilang mampu," katanya.
Sementara itu, Juwita anak dari pasangan Parijam dan Rusmadi yang sering mengambil obat orang tuanya katakan, pernyataan ibunya meninggal tersebut dia dapatkan saat mau mengambil obat di RSUD PH, ketika itu tiba-tiba dia kartu BPJS yang digunakan tidak aktif dan setelah dicek ternyata sudah terlampir di dalam komputer bahwa Parijam sudah meninggal.
"Sekitar 6 bulan yang lalu saya ke rumah sakit, pas mau menggunakan BPJS katanya petugasnya tidak bisa digunakan lagi karena ibu saya sudah dinyatakan meninggal dan saya juga langsung baca data tersebut di komputer petugas rumah sakit. Sejak itu kami menggunakan jalur mandiri agar masih bisa berobat gratis," imbuhnya.
Kepala Dinas Sosial, Syaifuddin saat dikonfirmasi melalui selulernya tidak mengangkat telpon. Hingga berita ini diterbitkan pihak Dinsos belum memberikan klarifikasi atau jawaban***
Editor: Ucu

Berita Lainnya
Hina solidaritas 212 Polisi Ditantang Penjarakan Ketua Pendukung Ahok Immanuel Ebenezer
Gubri Syamsuar Hadiri Peringatan Tahun Baru Islam 1441 H
Raup Keuntungan Sampai 250 Juta Perhari, Pabrik Masker Palsu Digrebek Polisi
Subhanallah...Tukang Tambal Ban Ini Selalu Gratiskan Jasanya Setiap Hari Jumat
Orang Tua Minta Pertanggungjawaban Sekolah, Siswi Jadi Korban Bully dan Pelecehan
Kamu Harus Tahu, Kandungan Daun Kelor yang Sangat Bermanfaat Bagi Kesehatan
Sekda Perintahkan Camat se-Pekanbaru Larang Warga Bakar Sampah, Siaga Darurat Kabut Asap
Masyarakat Dan Tokoh Tionghoa Desa Bakau Aceh Kita Dukung HM. Wardan-Su Memimpin Inhil
Guru Buya Hamka Riau Doakan Ahmad Syah Harrofie jadi Bupati Bengkalis
Asmadi Milad Ke 10: Gerindra Tangguh Berada di Atas Dan Kuat Ketika Berada Dibawah
Marcella Zalianty Takut Gunakan Kecanggihan Teknologi untuk Kecantikan
Tim Gabungan Basarnas Inhil Berhasil Temukan Jasat Reno Santoso Korban Tenggelam di Perairan GAS