PILIHAN
Membenahi IUP, Keterbukaan Lapangan Pekerjan, SPRMII Riau: Tanpa IUP Pidananya Penjara 10 Tahun
BUALBUAL.com - Untuk menjaga agar proses pembangunan fisik tetap berwawasan lingkungan adalah penting bagi kelanjutan pembangunan itu sendiri.
Karena itu menurut Ketua DPD Serikat Pekerja Rumpun Melayu Industri Indonesia (SPRMII) Riau, Zulfahmi, dalam pelaksanaan pembangunan di seluruh Kabupaten/Kota SW Riau, sektor penunjang utama yang menjadi input dalam pembangunan infrastruktur baik berupa Bangunan Gedung maupun Bangunan Sipil adalah sektor pertambangan material konstruksi bahan bangunan.
Yang mana, sambungnya, termasuk dalam komoditas tambang batuan sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara ("PP Minerba").
Zulfahmi menjelaskan, jenis komoditas tambang batuan yang umum dimanfaatkan dalam pekerjaan konstruksi antara lain: kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir urug, pasir pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah), rukan tanah setempat, dan tanah merah (laterit).
Menurut dia lagi, material bahan konstruksi memiliki peran timbal balik pada, yaitu selain sebagai konsumsi tetap dalam pembangunan infrastruktur dapat pula menjadi sumber pendapatan Aceh dalam bentuk Pajak Penghasilan, PBB, BPHTB, dan Pajak Daerah apabila fungsi perizinan telah optimal dimanfaatkan.
"Untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan serta berwawasan lingkungan maka dibutuhkan komponen hukum yang mengatur tentang perizinan usaha penambangan material bahan konstruksi agar proses distribusi pendapatan, peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), dan ketahanan sosial tumbuh berkembang ke arah yang lebih baik, " papar Zulfahmi didampingi Sekretaris DPD SPRMII Riau, Mashuri Kurniawan kepada wartawan, Ahad (25/8/2019).
Ditegaskannya, dalam upaya tersebut Pemerintah Provinsi Riau dapat menggunakan kewenangannya terkait dengan penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP).
"IUP kemudian menjadi alat kontrol pemerintah dalam pengendalian lingkungan sekaligus sebagai alat distribusi pendapatan bagi masyarakat dan badan usaha yang bersumber dari belanja infrastruktur Provinsi maupun Kabupaten/Kota, " jelasnya.
Sementara itu Sekretaris DPD SPRMII Riau, Mashuri Kurniawan mengatakan, data penatalaksanaan IUP secara rinci dalam bentuk sebagai berikut
Pertama, penertiban IUP akan menjamin keterbukaan lapangan kerja secara berkesinambungan
Kedua, memfungsikan IUP yang sesuai dengan wilayah Kabupaten/Kota lokasi pekerjaan sebagai persyaratan substansial dalam lelang jasa konstruksi bangunan sebagai upaya pendistribusian pendapatan dari belanja pemerintah
Ketiga, dapat mengoptimalkan pendapatan pajak-pajak dari usaha pertambangan
Keempat, dengan pengembangan SDM yang terarah maka akan terwujud suatu perkumpulan pemegang IUP sebagai alat kontrol ketahanan sosial
Untuk diketahui bersama bahwa yang disebut sebagai galian C dalam istilah masyarakat umum pada prinsipnya merupakan jenis mineral bukan logam dan batuan yang menjadi material utama bahan bangunan gedung dan bangunan sipil dimana kegiatan usaha pertambangannya wajib memiliki IUP sesuai ketentuan perundang-undangan.
Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) huruf d PP Minerba, Galian C termasuk kedalam jenis komoditas tambang batuan; meliputi: pumice, tras, toseki, obsidian, marmer, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth), slate, granit, granodiorit, andesit, gabro, peridotit, basalt, trakhit, leusit, tanah liat, tanah urug, batu apung, opal, kalsedon, chert, kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu terkersikan, gamet, giok, agat, diorit, topas, batu gunung quarry besar, kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir urug, pasir pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah), rukan tanah setempat, tanah merah (laterit), batu gamping, onik, pasir laut, dan pasir yang tidak mengandung unsur mineral logam atau unsur mineral bukan logam dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.
Dijelaskan Mashuri, diantara kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah merupakan penerbitan izin usaha pertambangan mineral bukan logam dan batuan dalam rangka penanaman modal dalam negeri pada wilayah izin usaha pertambangan yang berada dalam 1 (satu) Daerah provinsi termasuk wilayah laut sampai dengan 12 mil laut.
"Sesuai ketentuan UU Minerba Pasal 158, setiap kegiatan usaha penambangan yang dilakukan tanpa IUP merupakan perbuatan yang dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), "ungkapnya.
Mashuri juga mengimbau instansi terkait, agar senantiasa melakukan pengawasan di lokasi penambangan tanah timbun, khsusunya di Kecamatan Tenayanraya, Kota Pekanbaru.
[caption id="attachment_57883" align="alignnone" width="300"]
Membenahi IUP, Keterbukaan Lapangan Pekerjan, SPRMII Riau: Tanpa IUP Pidananya Penjara 10 Tahun[/caption]
Hal itu bertujuan untuk menghindari berbagai dampak yang timbul akibat kegiatan tersebut, sehingga merugikan masyarakat sekitar.
"Jangan sampai tidak diawasi instansi terkait, pihak kecamatan jangan diam saja kalau ada aktivitas penambangan tanah timbun di daerahnya. Begitu juga instansi terkait di Pemko Pekanbaru, kepolisian, harus kontrol juga dilapangan," kata dia.
Pasalnya, perizinan yang telah di atur dalam peraturan perundang-undangan berfungsi untuk mengatur tindakan penerima izin.
Kemudian, rekayasa pembangunan melalui penerapan kaidah-kaidah ilmu dalam pelaksanaannya untuk melahirkan insentif dan multiplier effect ekonomi.
"Paling utama itu memberdayakan masyarakat dalam pekerjaan dilapangan. Terutama pekerja lokal, " jelasnya. ***
Membenahi IUP, Keterbukaan Lapangan Pekerjan, SPRMII Riau: Tanpa IUP Pidananya Penjara 10 Tahun[/caption]
Hal itu bertujuan untuk menghindari berbagai dampak yang timbul akibat kegiatan tersebut, sehingga merugikan masyarakat sekitar.
"Jangan sampai tidak diawasi instansi terkait, pihak kecamatan jangan diam saja kalau ada aktivitas penambangan tanah timbun di daerahnya. Begitu juga instansi terkait di Pemko Pekanbaru, kepolisian, harus kontrol juga dilapangan," kata dia.
Pasalnya, perizinan yang telah di atur dalam peraturan perundang-undangan berfungsi untuk mengatur tindakan penerima izin.
Kemudian, rekayasa pembangunan melalui penerapan kaidah-kaidah ilmu dalam pelaksanaannya untuk melahirkan insentif dan multiplier effect ekonomi.
"Paling utama itu memberdayakan masyarakat dalam pekerjaan dilapangan. Terutama pekerja lokal, " jelasnya. ***

Berita Lainnya
Mahasiswa Teknik Sipil UNISI Gelar Temu Keluarga FKMTSI Wilayah II se-Riau - Riau Kepri
Jembatan Rumbai Jaya Salah satu Icon Peta Wisata Indragiri Hilir
Bersama DPRD Pemkab Inhil Ekspos Pembangunan 2017-2018 di Pekanbaru
Secara Mengejutkan Cinta Panelope Ingin Laporkan Ustadz Abdul Somad Ke MUI
May Day, Jurnalis Juga Buruh Tuntutan Kerja Kami Tak Kenal Waktu
KPUD Inhil Gelar Rapat Pleno, Dan Pastikan Tidak Adanya (Bapaslon) di Pilkada 2018
MUI Minta Setop Sebutan Cebong-Kampret ''Sambut Ramadan''
Ini Pernyataan Ketua MUI Bengkalis,Terkait Oknum Banser Bakar Bendera Tauhid
IWO INHIL Surati DPRD Terkait Hearing Penanganan Kebakaran OPD Terkait di Harapkan Hadir
Ini Bahayanya Makan Nasi Goreng Pakai Mentimun
Dorongan Diskop Bengkalis untuk Pendirian Koperasi Berbadan Hukum di Sekolah
Khusus Buat Fans Telur: Trik Membedakan Telur Mentah dengan Telur Rebus