Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Kenapa Tunjuk Ajar Melayu Dianggap Warisan Tak Benda yang Berharga?
BUALBUAL.com - Di sebuah rumah panggung di tepian Sungai Siak, suara seorang nenek mengalun pelan. Ia menuturkan kisah lama kepada cucunya yang duduk bersila, memandang penuh takzim. Kisah itu bukan dongeng biasa—ia sarat makna, penuh nasihat, dan berakar pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar cerita sebelum tidur. Itulah Tunjuk Ajar Melayu, warisan tutur yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Melayu sejak ratusan tahun lalu.
Hari ini, di tengah hiruk-pikuk zaman digital, nilai-nilai dari Tunjuk Ajar Melayu tetap hidup. Ia tidak berteriak, tidak menggurui—namun hadir lembut, membimbing dengan bijak, memberi arah tanpa paksaan.
Bukan Sekadar Nasihat
Tunjuk Ajar Melayu bukanlah sekadar petuah kosong. Ia adalah filosofi hidup. Di dalamnya termuat 25 pokok pikiran utama, seperti Tahu Diri, Tahu Membalas Budi, Hidup Memegang Amanah, hingga Tahu Akan Bodoh Diri—sebuah bentuk kerendahan hati yang kini mulai hilang di tengah budaya instan.
“Dalam adat Melayu, hidup itu berpakaian. Tapi bukan hanya tubuh, hati juga harus berpakaian. Tunjuk Ajar Melayu adalah pakaiannya,” ungkap seorang tokoh adat di Kabupaten Kampar, Riau.
Fungsi yang Menjaga Martabat
Bagi masyarakat Melayu, Tunjuk Ajar memiliki fungsi yang dalam. Ia adalah pegangan, rumah, pakaian, tulang, amalan, bahkan tameng. Setiap nilai di dalamnya berfungsi membentuk watak dan menjaga martabat manusia. Karena tanpa nilai, manusia hanya kulit kosong yang mudah terombang-ambing arus dunia.
“Orang yang hidup tanpa tunjuk ajar ibarat kapal tanpa kemudi,”
— Petuah Melayu
Dari Lisan ke Lembaran Buku
Keberadaan Tunjuk Ajar Melayu tak terlepas dari peran Tenas Effendy, budayawan Melayu Riau yang telah membukukan nilai-nilai luhur ini dalam karya monumental. Kini, buku Tunjuk Ajar Melayu tidak hanya dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah, tapi juga menjadi referensi bagi pemerhati budaya, pendidik, dan orang tua yang ingin menanamkan nilai-nilai keteladanan kepada anak.
Pada tahun 2017, pemerintah Indonesia resmi menetapkan Tunjuk Ajar Melayu sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Sebuah pengakuan atas keluhuran nilai yang bukan hanya milik Melayu, tapi warisan untuk seluruh bangsa.
Tantangan Zaman dan Harapan Baru
Di era media sosial dan budaya serba cepat, Tunjuk Ajar Melayu menghadapi tantangan besar: dilupakan. Namun, berbagai komunitas budaya, sekolah adat, dan gerakan literasi kini mulai mengangkatnya kembali—melalui festival, podcast, hingga visual storytelling.
“Jika ingin Melayu tetap berakar, kita harus memelihara tunjuk ajarnya,” ujar seorang guru di Pekanbaru.
Akhir Kata: Warisan yang Harus Hidup
Tunjuk Ajar Melayu bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia adalah cermin, kompas, dan cahaya. Di dalamnya, kita menemukan siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita hendak melangkah.
Di ujung cerita, sang nenek menutup petuahnya dengan senyum. Sang cucu terdiam, merenung. Dan di situlah, nilai Tunjuk Ajar Melayu hidup kembali—dalam hati generasi baru yang mulai memahami arti jadi manusia.
???? Untuk mengenal lebih jauh, kunjungi artikel aslinya di riaumagz.com

Berita Lainnya
Bolak Raya: Desa Religi Nan Asri di Ujung Indragiri Hilir
Jejak Desa Igal: Sejarah Tak Tertulis dari Tanah Kelapa dan Air Pasang
Desa Sri Danai, Mutiara di Utara Indragiri Hilir yang Terus Bersinar
Sejarah Desa Tanjung Raja Kateman: Dari Pesisir Sunyi Menuju Desa Mandiri
Sejarah Kecamatan Batang Peranap: Jejak Pagaruyung di Tanah Indragiri Hulu
Orang Bugis Harus Tahu! Inilah Asal Usul dan Sejarah Kapal Pinisi yang Diakui UNESCO
Kamu Orang Melayu? Inilah Sejarah Awal Mula Terpisahnya Orang Melayu Menjadi 4 Negeri!!!
Batang Sari: Kisah Sebuah Desa Pesisir yang Tumbuh dari Sungai Bertabur Kayu di Kecamatan Mandah Indragiri Hilir
Asal Usul Desa Kuala Selat: Jejak Sejarah di Pesisir Indragiri Hilir
Yuk Mengenal Sejarah Kehidupan dan Budaya Suku Dayak Indonesia
Sejarah Awal Mulannya Syair 'Berdah' Berkembang di Kabupaten Indragiri Hilir
Sungai Siak, Dulu Bernama Sungai Jantan: Inilah Asal-usul dan Perannya