Asal Usul Desa Penjuru Kateman: Kampung Tua di Ujung Pesisir Inhil

BUALBUAL.com - Terletak di pesisir timur Kabupaten Indragiri Hilir, Desa Penjuru merupakan salah satu desa tua yang menyimpan sejarah panjang tentang peradaban masyarakat pesisir. Desa ini tidak hanya menjadi hunian masyarakat Melayu sejak berabad lalu, tetapi juga menjadi saksi perjalanan budaya, migrasi, dan perjuangan ekonomi masyarakat di wilayah Kateman.
Awal Mula dan Nama “Penjuru”
Menurut penuturan warga setempat dan sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun, nama "Penjuru" berasal dari posisi geografis desa yang berada di “penjuru” atau sudut paling timur wilayah Kateman. Letaknya yang strategis di muara sungai dan tepi laut membuat desa ini sejak dahulu menjadi titik singgah para pelaut, nelayan, dan pedagang lokal maupun dari luar.
Diperkirakan, Desa Penjuru mulai dihuni secara tetap pada awal abad ke-19 oleh komunitas Melayu pesisir. Mereka menetap dan membuka ladang-ladang kecil, merintis kebun kelapa, dan menjadikan laut sebagai sumber utama penghidupan.
Pusat Persinggahan dan Perdagangan Kecil
Pada masa lalu, Desa Penjuru kerap menjadi tempat persinggahan kapal-kapal kecil yang melintas di perairan Kateman menuju Pulau Burung atau pesisir Riau lainnya. Penduduk lokal memanfaatkan momen tersebut dengan berdagang hasil laut, sagu, dan kelapa. Kegiatan barter dan jual beli berkembang, dan dari sinilah ekonomi desa tumbuh.
Meski kini telah mengalami banyak perubahan, jejak sejarah itu masih terasa lewat kebiasaan masyarakat yang menjaga nilai gotong royong dan musyawarah dalam kehidupan sehari-hari.
Pengaruh Budaya dan Agama
Sebagaimana desa-desa tua lainnya di pesisir Indragiri Hilir, masuknya ajaran Islam di Desa Penjuru terjadi secara damai melalui dakwah para ulama dan saudagar dari Kesultanan Riau-Lingga. Masjid-masjid kayu yang dahulu menjadi pusat kegiatan agama dan sosial masyarakat kini telah direnovasi, namun nilai-nilai keislaman tetap dijunjung tinggi.
Perubahan Zaman dan Harapan Baru
Seiring berjalannya waktu, pembangunan mulai merambah desa ini. Jalan akses, listrik, dan sarana pendidikan perlahan-lahan hadir di tengah masyarakat. Namun tantangan seperti abrasi pantai, keterbatasan infrastruktur, dan migrasi generasi muda ke kota masih menjadi isu yang dihadapi warga Desa Penjuru.
Meskipun begitu, masyarakat desa tetap optimis. Dengan menjaga warisan sejarah, adat, dan lingkungan, mereka berharap Desa Penjuru tidak hanya dikenal sebagai desa tua, tetapi juga desa yang tangguh menghadapi zaman.
Sumber:
- Penelusuran sejarah lisan masyarakat Desa Penjuru
- Dokumentasi Kecamatan Kateman
- Arsip tidak tertulis Dinas Kebudayaan Inhil
- Observasi lapangan dan data geografis wilayah pesisir Kateman
Berita Lainnya
Yuk Mengenal Warisan Budaya Tak Benda Riau 'Gambus Selodang' Siak
Mengenal Belaras Barat: Desa Muda di Kecamatan Mandah dengan Potensi Besar, Benarkah?
Satu-satunya Negara Miliki Nama dengan satu suku kata Yaitu Chad, Menjadi Negara paling lapar di Dunia
Mari Kita Membaca Cerita Rakyat Riau, Sutan Nan Garang jo si Rantai Omeh
Sejarah Kelurahan Bandar Sri Gemilang: Dari Pesisir Sunyi Menuju Pusat Kateman
Mengenal 4 Sahabat Hang Tuah: Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu
Asal Usul Desa Kuala Selat: Jejak Sejarah di Pesisir Indragiri Hilir
Kamu Harus Tahu! Inilah Asal usul uang Kertas yang Kita Gunakan Sehari - hari
Yuk Mengenal Warisan Budaya Tak Benda Riau 'Gambus Selodang' Siak
Mengapa Pulau Jawa menjadi Pulau dengan Penduduk terbanyak di Didunia? Berikut Ini Penjelasannya
Mengenal Sejarah Sungai Danai: Desa Tua di Perbatasan Indragiri Hilir
Sejarah Singkat Desa Hibrida Mulya Teluk Belengkong, Sentra Kelapa Hibrida di Bagian Utara Inhil