Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Batang Tumu, Desa Pesisir yang Tetap Lestari tanpa Suku Tionghoa
BUALBUAL.com - Di ujung selatan Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, hamparan air Sungai Batang Tumu mengalir tenang. Di sepanjang aliran sungai itu, berdiri deretan rumah panggung kayu, berpadu dengan rimbun pohon nipah dan kelapa yang menjadi ciri khas desa pesisir. Di sanalah Desa Batang Tumu berada — sebuah desa kecil yang kaya cerita dan tradisi, yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Baca juga : Asal Usul dan Jejak Kepemimpinan Desa Bakau Aceh dari Masa ke Masa
Meski tak setenar desa wisata lainnya, Batang Tumu memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan beberapa desa pesisir di pesisir timur Sumatra yang umumnya memiliki komunitas Tionghoa sejak masa perdagangan rempah, Batang Tumu sejak awal dihuni oleh suku-suku Melayu, Banjar, dan Bugis. Mereka datang dari pelbagai daerah, menyusuri sungai dan laut demi mencari penghidupan di tanah subur Indragiri.
“Masyarakat di sini memang dari dulu mayoritas Melayu, Banjar, sama Bugis. Komunitas Tionghoa nggak pernah menetap di sini,” tutur Muhammad Nur, salah satu tokoh masyarakat setempat.
Jejak Perantau Pesisir
Desa Batang Tumu terdiri dari lima dusun: Perisay, Tokolan Darat, Teluk Kampung, Merangung, dan Pasar Tokolan. Masing-masing dusun memiliki kisah dan kebiasaan yang masih lestari hingga kini. Dengan jumlah penduduk sekitar 3.085 jiwa, kehidupan sosial masyarakatnya tetap terikat oleh nilai-nilai gotong royong, musyawarah adat, dan tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sungai Batang Tumu bukan sekadar jalur transportasi, tetapi menjadi sumber kehidupan utama. Setiap hari, perahu-perahu kayu kecil lalu lalang mengangkut hasil kebun dan ikan tangkapan nelayan. Ketika senja tiba, permukaan sungai berubah jingga keemasan, memantulkan cahaya matahari yang perlahan tenggelam di balik pepohonan kelapa.
Surga Mangrove di Ujung Sungai
Di balik tenangnya aliran sungai, Desa Batang Tumu menyimpan salah satu kekayaan alam pesisir yang tak ternilai: hutan mangrove yang masih alami. Hutan bakau ini tak hanya menjadi pelindung desa dari abrasi dan banjir rob, tetapi juga rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna.
Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam, hutan mangrove Batang Tumu menawarkan wisata edukatif. Pengunjung bisa menjumpai burung-burung pesisir, kepiting bakau, hingga berbagai jenis ikan air payau yang berseliweran di sela akar-akar pohon bakau. Perjalanan menuju desa ini pun menghadirkan pemandangan menakjubkan sepanjang Sungai Indragiri.
Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi
Meski tergolong desa pesisir, Batang Tumu terus berbenah. Sarana dan prasarana perlahan dibangun. Jalan antar dusun mulai diperkeras, fasilitas pendidikan diperbaiki, dan layanan kesehatan pun mulai ditingkatkan. Warga desa mayoritas menggantungkan hidup dari hasil laut, perkebunan kelapa, serta usaha kecil seperti anyaman nipah dan hasil olahan ikan.
Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai adat masih dipegang teguh. Musyawarah adat menjadi ruang penyelesaian masalah warga, sementara tradisi gotong royong masih rutin dilakukan, mulai dari memperbaiki dermaga hingga membersihkan sungai.
Sejarah yang Hidup dari Cerita
Sayangnya, catatan tertulis tentang sejarah resmi Desa Batang Tumu masih minim. Meski begitu, kisah tentang asal-usul desa tetap hidup lewat cerita-cerita orang tua kepada anak cucu. Mulai dari kisah para perantau pertama yang membuka kampung, hingga tentang tokoh-tokoh adat yang menjaga nilai-nilai tradisi di tengah tantangan zaman.
Desa Batang Tumu bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga ruang untuk belajar tentang arti kebersamaan, keteguhan menjaga warisan leluhur, dan bagaimana manusia bisa hidup selaras dengan alam.
Di pesisir Indragiri, desa kecil ini menyimpan pesan bahwa keindahan sejati bukan tentang kemewahan, tapi tentang harmoni yang sederhana.

Berita Lainnya
Asal Usul Nama Desa Bangun Harjo Jaya: Warisan Jawa di Tanah Melayu Pulau Burung Indragiri Hilir
Kamu Harus Tahu! Inilah Asal usul uang Kertas yang Kita Gunakan Sehari - hari
Generasi Muda Melayu Bersatu: Melayu Nusantara Expo 2026 Siap Pecahkan Rekor MURI
Ketua DPW GEMASABA Riau: Kita Masih Butuh Pahlawan, Mari Kita Berkarya yang Mendunia dan Bisa Bikin Banga Indonesia
Kabupaten atau Kota Mana yang Paling Tua di Provinsi Riau?
Luksemburg Negara Paling Kecil, Tapi Gaji Paling Tertinggi di Dunia
Asal Usul Desa Air Tawar, Pusat Kehidupan Pesisir Sejak Zaman Dahulu
Sejarah Pacu Jalur: Dari Ratu Wilhelmina Hingga Harapan ke UNESCO
Sejarah dan Perkembangan Desa Suko Harjo Jaya, Pulau Burung - Indragiri Hilir
Sastra Lisan Indragiri Hilir, Syair Ibarat Khabar Kiamat dan Sejarah Tuan Guru Sapat
Kite Mesti Tahu! Pengertian, Makna dan Fungsi Serta Manfaat dari Kata Tunjuk Ajar Melayu
Berapa Lama Tanah Melayu Dijajah?