Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Batang Sari: Kisah Sebuah Desa Pesisir yang Tumbuh dari Sungai Bertabur Kayu di Kecamatan Mandah Indragiri Hilir
BUALBUAL.com - Di kawasan pesisir timur Riau, tepatnya di Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, terdapat sebuah desa bernama Batang Sari. Meski tak setenar daerah wisata lainnya di pesisir Sumatra, Batang Sari menyimpan sejarah panjang dan nilai-nilai kearifan lokal yang masih lestari hingga kini.
Desa ini dulunya adalah bagian dari wilayah Desa Belaras. Letaknya yang berada di tepi sungai dan jauh dari pusat kecamatan, menjadikan Batang Sari memiliki karakter tersendiri. Menurut cerita masyarakat setempat, nama "Batang Sari" diambil dari kondisi geografis di masa lampau. Saat itu, sungai yang mengalir di sekitar wilayah ini dipenuhi oleh batang-batang kayu yang hanyut terbawa arus, hingga warga setempat menyebutnya dengan istilah “Batang”, sementara kata “Sari” bermakna sesuatu yang berharga atau indah. Maka lahirlah nama Batang Sari, yang bermakna sungai bertabur batang kayu yang menjadi sumber kehidupan bagi penduduknya.
Sekitar awal tahun 2000-an, wilayah Batang Sari mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup pesat. Namun, fasilitas umum seperti jalan penghubung, fasilitas kesehatan, dan pendidikan masih sangat terbatas. Warga harus menempuh perjalanan jauh melalui sungai ke Desa Belaras atau ke pusat Kecamatan Mandah untuk mendapatkan layanan dasar. Kondisi ini diperburuk dengan mewabahnya penyakit malaria saat itu, yang menyebabkan banyak warga jatuh sakit.
Melihat situasi tersebut, tokoh-tokoh masyarakat bersama pemerintah daerah berinisiatif mengusulkan pemekaran desa. Dukungan pun datang dari Bupati Indragiri Hilir saat itu, H. Rusli Zainal, dan Camat Melalui berbagai tahapan, akhirnya pada tahun 2004, melalui keputusan Menteri Dalam Negeri, wilayah ini resmi dimekarkan dan diberi nama Desa Batang Sari.
Sejak diresmikan, Desa Batang Sari dipimpin oleh beberapa kepala desa yang silih berganti berperan dalam membangun desa. Berikut catatan kepemimpinan desa tersebut:
1.Sujono (2004–2007): Kepala desa pertama yang membangun fondasi pemerintahan desa, mulai dari administrasi hingga membentuk struktur perangkat desa.
2. Tairo (2007–2013): Melanjutkan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan penghubung antar dusun dan dermaga sungai.
3. Hastoni, S.Sos (2013–2014) dan M. Haris (2014–2015) menjabat sebagai Pjs. Kepala Desa, memastikan kelangsungan pemerintahan sambil mempersiapkan pemilihan kepala desa berikutnya.
4. Sujono (2015–2021) kembali dipercaya memimpin desa, fokus pada pembangunan ekonomi masyarakat dan peningkatan fasilitas pendidikan serta kesehatan.
5. Sri Haryati (2021–2022) menjabat sebagai Plh. Kepala Desa.
6. Tairo (2022–2027) kembali menjabat, membawa visi pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal dan pelestarian lingkungan
Potensi dan Kehidupan Masyarakat
Desa Batang Sari memiliki kekayaan alam yang melimpah, terutama di sektor perikanan dan perkebunan kelapa. Masyarakat menggantungkan hidup dari hasil laut, kebun kelapa, serta berbagai usaha kecil seperti kerajinan tangan berbahan daun nipah.
Kawasan mangrove di sekitar sungai desa menjadi ekosistem penting, berfungsi sebagai pelindung dari abrasi dan tempat berkembangbiaknya berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting. Di sela aktivitas harian, masyarakat masih menjaga tradisi gotong royong dan musyawarah adat.
Pembangunan dan Harapan Ke Depan
Seiring berjalannya waktu, infrastruktur di Desa Batang Sari mulai berkembang. Jalan penghubung desa yang dahulu hanya berupa jalan setapak tanah kini telah diperkeras, dermaga kayu diganti dengan pelabuhan kecil, dan sarana pendidikan pun ditingkatkan.
Meski demikian, tantangan masih banyak. Desa ini masih memerlukan penguatan sektor kesehatan, peningkatan fasilitas pendidikan menengah, serta peluang usaha berbasis potensi lokal seperti wisata mangrove, budidaya perikanan, dan pengembangan produk olahan kelapa.
Masyarakat berharap, Desa Batang Sari ke depan tidak hanya menjadi desa pesisir yang lestari, tapi juga mampu mandiri secara ekonomi dan menjadi contoh bagi desa-desa lain di wilayah pesisir Indragiri Hilir.
Sejarah Desa Batang Sari bukan sekadar tentang pemekaran wilayah, tetapi tentang perjuangan masyarakat pesisir dalam membangun kampung halaman, menjaga alam, dan merawat tradisi di tengah modernisasi. Sebuah kisah yang layak untuk dikenang, diceritakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Berita Lainnya
Mari Kita Membaca Cerita Rakyat Riau, Sutan Nan Garang jo si Rantai Omeh
Sejarah Desa Griya Mukti Jaya, Teluk Belengkong: Lahir dari Semangat Mandiri Warga
Aksi Patroli RP 133 untuk Melumpuhkan Ekonomi dan Perjuangan Tentara Nasional Indonesia di Indragiri Hilir
Mosthamir Thalib: Kerdilkan Makna Nusantara
Singapura Pernah Menjadi Bagian dari Kerajaan Sriwijaya, Sebuah Negara kecil Kini Menjadi Negara Paling Maju di Asia
Yuk Kita Mengenal Lebih dalam tentang Thailand, Negara Asean yang Tidak Pernah Dijajah
Mengenal Sejarah Kabupaten Bintan Mempunyai Ciri Khas terdiri dari Ribuan Pulau Besar dan Kecil yang Tersebar di Laut Cina Selatan
Desa Bente: Jejak Sejarah, Potensi dan Pusat Lalu Lintas Transportasi Tersibuk di Bagian Indragiri Hilir Utara
Desa Gembira: Sebuah Nama, Sebuah Harapan dari Ujung Gaung Indragiri Hilir
Mengenal Namanya Pulau Burung: Dari Pulau Kecil Berisi Burung Menjadi Sentra Kelapa Nasional
Batu Ampar: Desa Tua di Hulu Reteh Kemuning Indragiri Hilir yang Tak Lekang oleh Zaman
Kok Bisa? Inhil Masuk Daftar Kabupaten Tersepi di Riau, Ini Alasannya!