Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Perempuan Bukan Pelengkap, Sarinah GMNI Tegaskan Posisi Subjek Politik
BUALBUAL.com - Dalam rangka memperingati Hari Ibu Nasional, refleksi akhir tahun 2025, sekaligus penggalangan dana bencana Sumatera, Sarinah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) se-Indonesia menggelar Diskusi Nasional Feminisme Pancasila bertema “Pelopor Perempuan Terpelajar Masa Kini”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan live streaming YouTube.
Diskusi nasional ini diinisiasi oleh DPC GMNI Jakarta Timur sebagai upaya ideologis dan organisatoris yang dilakukan secara sadar, terarah, dan berkelanjutan. Forum ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus konsolidasi gagasan kader GMNI dari berbagai wilayah Nusantara, mulai dari Sumatera, Jawa, hingga kawasan timur Indonesia seperti Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Rangkaian acara dibuka oleh Michelle Filladelfia, Ketua Komisariat GMNI Universitas Jayabaya Jakarta Timur, selaku pembawa acara. Kesuksesan siaran langsung turut didukung oleh Sociocorner dan PT Upquality.
Ketua Pelaksana kegiatan, Sarinah Yulia Brian Dini, Ketua Komisariat GMNI Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Timur, dalam laporannya menyampaikan bahwa diskusi ini dirancang sebagai ruang dialektika dan konsolidasi strategis untuk memperkuat peran perempuan terpelajar dalam ranah sosial dan politik kebangsaan. Ia berharap forum ini mampu melahirkan kontribusi nyata kader Sarinah GMNI di tengah masyarakat.
Antusiasme peserta terbilang tinggi. Sebanyak 143 kader GMNI tercatat mendaftar pada tahap awal, dan jumlah kehadiran meningkat hingga sekitar 200 peserta saat kegiatan berlangsung. Peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mencerminkan besarnya perhatian kader terhadap isu feminisme yang berakar pada nilai-nilai Pancasila.
Diskusi ini turut menghadirkan Sarinah pelopor dari berbagai daerah sebagai simbol sinergi dan persatuan perempuan GMNI. Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Tiarma Simanjuntak (DPC GMNI Jakarta Timur), Nova Eliza (DPC GMNI Depok), Yohana Acelina Bureni (DPC GMNI Kupang), Rahmania Benamen (DPC GMNI Mimika), Mahfuzoh (DPC GMNI Pekanbaru), Juniar Amalia Saputri (DPC GMNI Tangerang Selatan), serta perwakilan dari Tapanuli Utara, Surakarta, dan Surabaya Raya.
Dalam opening speech-nya mewakili Sarinah se-Indonesia, Tiarma Simanjuntak menegaskan pentingnya nilai keibuan sebagai kekuatan moral gerakan. Ia menekankan bahwa Sarinah bukan pelengkap sejarah, melainkan subjek politik yang sadar, terdidik, dan berdaya dalam memimpin perubahan sosial demi pembebasan kaum Marhaen.
Diskusi ini juga menjadi momentum untuk merumuskan Dokumen Konsepsi Road Map Feminisme Pancasila menuju Indonesia Emas 2045 yang selaras dengan Asta Cita. Persoalan perempuan dipandang sebagai denyut utama revolusi sosial, sehingga kader Sarinah dituntut tampil sebagai pelopor yang berani dan setia menjaga persatuan.
Sebagai pengantar ideologis, diskusi menghadirkan Eva Kusuma Sundari dari Institut Sarinah Indonesia sebagai keynote speaker. Ia menegaskan bahwa Feminisme Pancasila merupakan gerakan keadilan gender khas Indonesia yang bersumber dari nilai luhur bangsa, berbeda dengan feminisme Barat yang berangkat dari konteks sosial-budaya lain.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan Panel Diskusi I yang dimoderatori oleh Intania Putri Mardiyani. Pada sesi ini, Dr. Dra. Immaculata Fatima, M.MA., Wakil Rektor Universitas Flores, memaparkan peran strategis perempuan terpelajar dalam pembangunan ekonomi rakyat berbasis Marhaenisme. Sementara itu, Susi Maryanti, S.H., M.H. dari DPN PERADI menyoroti isu politik dan hukum, khususnya perlindungan perempuan dari kekerasan domestik.
Pada Panel Diskusi II, yang dimoderatori oleh Andi Tenry Azzah, diskusi diarahkan pada perspektif kesehatan mental dan sosiologi. Prof. Dr. dr. Margarita Maria Maramis, Guru Besar Psikiatri Universitas Airlangga, menekankan bahwa kesehatan mental perempuan Marhaen merupakan hak dasar yang harus dilindungi melalui keadilan sosial dan kebijakan yang responsif. Sesi ini dilengkapi dengan pandangan sosiologis dari Agnes Sri Poerbasari dari Dewan Ideologi DPP Persatuan Alumni GMNI.
Menutup seluruh rangkaian acara, diskusi ini menegaskan bahwa GMNI memandang persoalan perempuan sebagai inti perjuangan kerakyatan. Melalui konsep Sarinah, perempuan ditempatkan sebagai motor penggerak perubahan untuk melawan ketimpangan struktural dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila sebagai akar historis Marhaenisme.

Berita Lainnya
Mahasiswa KKN Unisi dan Polres Inhil Bagikan Puluhan Paket Sembako
Manajer PLN UP3 Rengat Inhu Undang Wartawan Acara Perpisahan Pindah Tugas
BRK Cabang Tembilahan Bagikan 131 Paket Sembako kepada Masyarakat Kurang Mampu
Peringati Hari Kartini, PLN NP UP Tenayan Pantau Tumbuh Kembang Anak Lewat Program TAMASYA di TAS Ibu Mithali
Ketua FSPTI-KSPTI Rengat Mukson, Ciptakan Kondisi Aman dan Damai
Terkuak Kebohongan, Berikut Isi Rekaman Rapat Pada Saat Penyampaian Izin Prinsip THL Kecamatan Senayang
Jumat Berbagi, IWO Inhil Kembali Salurkan Bantuan kepada Warga Kecamatan Tembilahan
PT.Pelita Agung Agrindustri - DURI Berbagi Sembako Gratis Dan Gelar Pasar Murah di Desa Bumbung
Kapolsek Rengat Barat Bersama Bhayangkari beri Bantuan Kepada Masyarakat Terdampak Banjir
Pemuda Pancasila Inhu turut serta di Upacara HUT RI ke- 78, Ratusan Anggota Turut hadir
Wujud Kepedulian di Momen Idul Adha, PLN Nusantara Power UP Tenayan Salurkan 22 Ekor Hewan Kurban untuk Warga Ring 1
Pemuda Pancasila Lumbung, Ciamis Lakukan Aksi Sosial di Tengah Wabah Corona Covid-19