Di Balik Lumpur Mangrove Siak
Tak Sekadar Cari Lokan! Ada Pesan Besar di Balik Lomba Unik di Hutan Mangrove Siak
BUALBUAL.com - Mengenakan obat nyamuk bakar yang disematkan di bahu kirinya, Ernawati (56) perlahan menuruni jalur kayu menuju hamparan lumpur hitam di Kawasan Konservasi Mangrove Sungai Bersejarah (MSB), Desa Kayu Ara Permai, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Jumat (24/7/2026).
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai penyadap getah karet itu mengikuti Lomba Mencari Lokan dalam rangkaian peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026. Kebiasaannya membawa obat nyamuk saat bekerja di hutan karet ternyata tetap dilakukan ketika menyusuri kawasan mangrove.
"Kalau menyadap karet saya memang biasa pakai obat nyamuk bakar supaya tidak digigit nyamuk. Hari ini saya pakai lagi karena di hutan mangrove nyamuknya juga banyak," ujar Ernawati sambil tersenyum.
Di tangan kanannya tergenggam parang kecil. Dengan alat sederhana itu, ia membongkar lumpur di sela-sela akar mangrove untuk mencari lokan (Polymesoda erosa), kerang bakau yang hidup beberapa sentimeter di bawah permukaan tanah. Setiap menemukan cangkang keras, ia segera memasukkannya ke dalam kantong plastik yang dibawanya.
Ernawati menjadi satu dari sekitar lima peserta perempuan di antara 52 peserta yang mengikuti lomba tersebut. Mereka berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Sungai Apit, seperti Bunsur, Mengkapan, Kayu Ara, Kayu Ara Permai, dan desa-desa lainnya.
Suasana perlombaan berlangsung meriah sekaligus menantang. Para peserta harus berjalan hati-hati di atas lumpur licin, melewati jalinan akar mangrove sambil membongkar tanah menggunakan parang atau sabit kecil. Sorak kegembiraan sesekali terdengar ketika peserta menemukan lokan berukuran besar, meski lebih sering mereka harus berpindah tempat karena hasil yang didapat tidak banyak.
Edukasi Konservasi Mangrove
Koordinator Lomba Mencari Lokan, Wiri Andeska, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bukan bertujuan mengajarkan masyarakat untuk mengambil lokan sebanyak-banyaknya. Sebaliknya, lomba ini menjadi media edukasi agar masyarakat semakin peduli terhadap kelestarian habitat lokan dan ekosistem mangrove.
Menurutnya, mencari lokan memang bukan mata pencaharian utama masyarakat Sungai Apit. Aktivitas tersebut biasanya dilakukan pada waktu senggang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau menambah penghasilan. Namun, tingginya nilai jual lokan yang mencapai sekitar Rp15 ribu per kilogram membuat aktivitas pencarian semakin intensif sehingga populasinya mulai menurun.
"Walaupun kegiatan ini dinamakan lomba mencari lokan, pesan yang ingin kami sampaikan adalah agar masyarakat selalu menjaga lingkungan, termasuk habitat lokan. Perburuan secara masif, apalagi mengambil lokan yang masih kecil, akan membuat hewan ini semakin sulit ditemukan di alam," kata Wiri.
Di beberapa sudut kawasan konservasi juga dipasang papan bertuliskan "Habitat Lokan" sebagai penanda zona perlindungan tempat kerang bakau tersebut berkembang biak.
Kawasan Konservasi Mangrove Sungai Bersejarah (MSB), yang merupakan mitra binaan PT Imbang Tata Alam, tidak hanya difungsikan sebagai kawasan pelestarian mangrove, tetapi juga dikembangkan sebagai pusat edukasi lingkungan dan wisata berbasis masyarakat.
Wiri menyebutkan, sejak lomba pertama digelar pada 2022, kawasan tersebut ditutup dari aktivitas pencarian lokan agar populasinya dapat berkembang secara alami.
"Kalau habitatnya tidak dijaga, lokan atau kerang bakau ini lama-kelamaan bisa punah. Karena itu kawasan konservasi harus menjadi tempat bagi lokan berkembang biak, bukan terus-menerus dieksploitasi," tegasnya.
Selain memiliki nilai ekonomi, lokan juga berperan penting sebagai filter feeder, yakni organisme penyaring partikel organik dan mikroorganisme yang membantu menjaga kualitas perairan mangrove. Keberadaannya menjadi salah satu indikator bahwa ekosistem mangrove masih dalam kondisi sehat.
Komitmen Perusahaan Jaga Lingkungan
EMP CSR & Communication Division Manager, Iman Soerjasantosa, mengatakan pelestarian mangrove beserta seluruh kehidupan yang bergantung pada ekosistem tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan di sekitar wilayah operasional.
Melalui pendampingan terhadap Kawasan Konservasi Mangrove Sungai Bersejarah bersama PT Imbang Tata Alam, perusahaan ingin mendorong pengelolaan kawasan pesisir yang memberikan manfaat ekologis sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Sebagai perusahaan hulu minyak dan gas bumi, kami memahami bahwa keberlanjutan operasi tidak hanya bergantung pada kemampuan menyediakan energi, tetapi juga pada terjaganya lingkungan di sekitar wilayah operasi. Karena itu kami mendukung masyarakat mengelola kawasan konservasi agar manfaat ekologis dan manfaat ekonominya dapat terus dirasakan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang," ujar Iman.
Pengalaman Baru bagi Peserta
Bagi Abu Bakar (60), warga Desa Bunsur, lomba tersebut menjadi pengalaman baru. Petani sawit itu mengaku baru pertama kali mengikuti lomba mencari lokan.
"Saya sangat senang walaupun tidak dapat juara. Kalau ada waktu kosong saya memang mencari lokan. Kadang dimakan bersama keluarga, kalau hasilnya banyak baru dijual," katanya.
Sementara itu, Kadarisman (50), warga Desa Kayu Ara, kembali mengikuti lomba setelah menjadi peserta pada 2022. Buruh bangunan tersebut mengaku lebih ingin memeriahkan Hari Mangrove Sedunia dibanding mengejar kemenangan.
"Biasanya kami hanya dapat sekitar dua kilogram, lalu dibagi ramai-ramai. Jadi lebih sering dimakan sendiri karena jumlahnya tidak banyak untuk dijual," ujarnya.
Bagi Ernawati sendiri, pengalaman menyusuri lumpur mangrove menjadi pelajaran berharga.
"Saya memang ingin mencoba hal baru. Ternyata mencari lokan tidak semudah yang saya bayangkan," tuturnya sambil tersenyum.
Lomba Mencari Lokan menjadi satu dari tujuh rangkaian kegiatan Hari Mangrove Sedunia 2026 yang mengusung tema "Kolaborasi Generasi Hijau untuk Mangrove Berkelanjutan."
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diajak mengenal kehidupan di balik ekosistem mangrove, tetapi juga memahami bahwa menjaga hutan mangrove bukan sekadar menanam pohon, melainkan melindungi seluruh kehidupan yang tumbuh dan berkembang di dalamnya.

Berita Lainnya
Tafsir Musibah Untuk Bencana Alam Sumatera: Antara Ujian, Peringatan, dan Ketetapan Ilahi
Mengurai Kisruh Pinjaman Inhil: Kolaborasi Lebih Penting daripada Polemik
Sinergi Pemerintah dan DPRD, Jawaban Tantangan Pembangunan Inhil
Dt. Dr. Junaidi, SHI., M. Hum, Pembalakan Liar dan Wajah Ekonomi Sosial Kita
Drs H Asra Faber MM : Orang Baik Harus Paham Politik Jika Tidak, Penjahat yang Kedalikan
Berani Tagih Rp1 Triliun ke Pusat! Surat Bupati Siak ke Prabowo, Dahlan Iskan: Kepala Daerah Sudah Mau Meledak!
Ketegasan Beradab, Teguran Berhikmah Jalan LAMR Menjaga Martabat Melayu
Dt. Dr. Junaidi, SHI., M. Hum, Pembalakan Liar dan Wajah Ekonomi Sosial Kita
Muhasabah Ibadah: Jangan Sampai Sunnah Menghalangi Wajib
Mengkhianati Hutan
Islam Melayu: Rumah Toleransi yang Terlupakan
Mengangkat Syiar, Menjunjung Marwah: Penguatan Dakwah dan Keagamaan Berbasis Adat Melayu Riau di Kabupaten Indragiri Hilir