PILIHAN
Puluhan Nelayan penuhi Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Senayang
Bualbual - Senayang, puluhan nelayan tradisional bubu ketam memenuhi ruangan Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Senayang, Jum'at(28/07), meminta kejelasan dan perlindungan terhadap pukat-pukat jaring yang beredar bebas diperairan 8 mil dari pulau kentar senayang.
Mereka mengeluhkan bahwasanya tempat untuk mencari makan sehari-hari sudah tidak aman lagi, banyaknya pukat-pukat di laut kentar menyapu bubu-bubu milik nelayan tradisional senayang.
[caption id="attachment_12624" align="alignnone" width="169"]
Ketua Koperasi Nelayan PBK senayang[/caption]
Muhdi selaku ketua Koperasi Nelayan Persatuan Bubu Ketam ( PBK ) mengatakan bahwa kami sangat mengeluh dengan keadaan sekarang, kami sudah beberapa kali mengadu ke Dinas DKP, bahkan sewaktu dinas berada di Kabupaten kami juga pernah mengadu masalah pukat tersebut, namun belum ada respon positif yang kami dapat", tutur dia.
"Bagaimana tidak mengeluh harga 1 buah bubu lengkap dengan rotan itu 70 ribu rupiah, sedangkan bubu yang hilang di hantam pukat jaring itu sekitar 50 buah sekali hilang, dan dalam sekelam ( 1 bulan ) hanya dapat 1 minggu turun untuk mencari ketam sedangkan pukat tiap hari beroperasi, maka dari ini kami berharap kepada Dinas terkait ataupun aparat penegak hukum untuk turut membantu kami dalam masalah ini, lokasi penempatan bubu 6 mil - 8 mil dari pulau kentar, itu pun nasib-nasib tidak hilang, ungkap dia kepada bualbual.com
Dan hari ini kami datang lagi ke Dinas ingin menanyakan apakah pukat itu diberikan izinkan di perairan senayang ? Dan pukat itu bukan pukat dari wilayah lingga melainkan daerah luar lingga, sambungnya.
"Kami sangat berharap adanya tindakan dari pemerintah setempat ataupun aparat, sebab disitulah tempat kami mencari makan untuk keluarga.
Editor : bdn
Ketua Koperasi Nelayan PBK senayang[/caption]
Muhdi selaku ketua Koperasi Nelayan Persatuan Bubu Ketam ( PBK ) mengatakan bahwa kami sangat mengeluh dengan keadaan sekarang, kami sudah beberapa kali mengadu ke Dinas DKP, bahkan sewaktu dinas berada di Kabupaten kami juga pernah mengadu masalah pukat tersebut, namun belum ada respon positif yang kami dapat", tutur dia.
"Bagaimana tidak mengeluh harga 1 buah bubu lengkap dengan rotan itu 70 ribu rupiah, sedangkan bubu yang hilang di hantam pukat jaring itu sekitar 50 buah sekali hilang, dan dalam sekelam ( 1 bulan ) hanya dapat 1 minggu turun untuk mencari ketam sedangkan pukat tiap hari beroperasi, maka dari ini kami berharap kepada Dinas terkait ataupun aparat penegak hukum untuk turut membantu kami dalam masalah ini, lokasi penempatan bubu 6 mil - 8 mil dari pulau kentar, itu pun nasib-nasib tidak hilang, ungkap dia kepada bualbual.com
Dan hari ini kami datang lagi ke Dinas ingin menanyakan apakah pukat itu diberikan izinkan di perairan senayang ? Dan pukat itu bukan pukat dari wilayah lingga melainkan daerah luar lingga, sambungnya.
"Kami sangat berharap adanya tindakan dari pemerintah setempat ataupun aparat, sebab disitulah tempat kami mencari makan untuk keluarga.
Editor : bdn

Berita Lainnya
Kunjungi Koramil 11 Pulau Burung, Ini Pesan Dandim 0314 Inhil
Misteri Pembangunan Piramida Dibangun Akhirnya Terungkap
Tradisi Tahunan Akhir Bulan Safar Desa Tukul
Besok, 500 Tim Gabungan Akan Turun Lakukan Penyemprotan Disinfektan di Kota Tembilahan
Gubri Gelar Rapat Lanjutan Penambahan Lahan Politeknik Perikanan KKP Dumai
Perkara Hoax, Polisi Limpahkan Berkas Ratna Sarumpaet ke Jaksa
Dinilai Sukses Meningkatkan Ekonomi Masyarakat, Ketua DPRD Apresiasi Bupati Kampar
Api Sempat Padam, Karhutla Terjadi di Ketam Putih Bengkalis
Begini Kronologi Pria Bersebo Dihantam Pakai Besi di Parit 4 Tembilahan “Gara-gara Minta Uang Rokok”
Fosil Kerang dan Gerabah dari Peradaban 2.000 Tahun Lalu Ditemukan di Tanjung Ser
Plh Bupati Bengkalis Paparkan Sejumlah Kersiapan dan Penanganan Covid-19
Family Gathering Kunjungi Diskominfo Kota Bandung, Trio Beni: Penting Guna Membentuk SDM Lokal Berwawasan Global