Banyaknya "BUALAN" di Jalan Kaliurang Atas
Salah satu yang paling saya ingat tentu saja adalah iklan-iklan perumahan di sekitaran wilayah Kaliurang atas yang selalu membual tentang jarak.
“Hanya 10 menit dari bandara”, begitu tulis iklan perumahan yang plangnya berdiri tegak dengan sangat menantang. Copywriting yang tentu saja selalu membuat batin saya berteriak.
Lha gimana, sepanjang saya hidup di Jogja, perjalanan dari kaliurang atas ke bandara baik menggunakan motor maupun mobil, baik sendiri maupun disetirin sama driver gojek, tak pernah sekali pun saya menempuh waktu perjalanan dalam waktu sepuluh menit. Seminim-minimnya setengah jam. Itu pun dengan kondisi jalanan yang lengang, dan berangkat sebelum subuh.
Mangkanya, kalau suatu saat saya punya kesempatan buat ketemu sama yang bikin iklan, ingin sekali saya pelototi wajahnya, lalu saya teriaki, “Itu lima belas menit naik apa, Bung? Buraq?”
Tapi yah, sebagai orang yang, jangankan beli rumah, untuk sekadar ngumpulin uang muka buat KPR saja belum sanggup, biarlah saya anggap iklan perumahan itu sebagai lucu-lucuan semata saja buat saya.
Nah, iklan lain yang juga cukup membuat saya agak geli adalah iklan sebuah homestay berupa plang yang terpasang di salah satu pertigaan paling ramai di Jalan Kaliurang atas.
Sebuah iklan homestay yang juga punya copywriting yang tak kalah membual: “Seperti di Rumah Sendiri!” begitu katanya.
Mampus, sungguh sebuah tagline yang kalau dimaknai dengan eksplisit, akan sangat lucu sekali dampaknya.
Membaca plang tersebut dari jauh, saya langsung senyum-senyum sendiri. Saya membayangkan bagaimana seandainya homestay tersebut disewa oleh keluarga yang rumahnya berlantai tanah, berdinding gedek bambu, dengan tempat tidur hanya berupa dipan bertikar pandan.
Bertahun-tahun mereka hidup sengsara, mereka menabung lama agar bisa berlibur di Jogja dan berharap bisa menginap di sebuah homestay yang bagus dengan kasur yang empuk.
Eh, apa daya, begitu uang terkumpul, mereka sewa homestay, ternyata homestaynya sama persis seperti rumah mereka sendiri: berlantai tanah, berdinding gedek bambu, dengan tempat tidur hanya berupa dipan bertikar. Malang nian nasib mereka.
Plang tersebut, entah kenapa, kemudian mengingatkan saya bualan yang lain lagi, yang tak jauh beda konteksnya. Bualan berupa testimoni tentang Warung Kopi Klothok, sebuah warung di daerah Kaliurang atas yang ramainya ngaudubillah setan itu. Warung yang saking ramainya, sampai-sampai pengunjung harus antri lama demi bisa mendapatkan makanan yang mereka pesan.
Dengan kondisi warung yang begitu, suatu ketika, Hamish Daud suaminya Raisa itu pernah enteng saja menulis testimoni seperti berikut: “Seperti di rumah sendiri.”
Tak heran jika kawan saya, Ali Ma’ruf sampai sewot dibuatnya. “Kasian Hamish Daud, kalau di rumah pengen makan harus antri panjang.”
Modiar.
Ah, soal bualan di Kaliurang ini, rasanya memang tak pernah selesai. Sumber: mojok.co

Berita Lainnya
Rektor UIR Sambangi Kediaman Ketua STIH Putri Maharaja Payakumbuh' Usai Teken MoU'
Apakah Ahok Aman Pasca Bebas, Tidak Ada Kepastian Hukum
Mengupas Rumus Pembangunan Rohil di masa Bupati Suyatno. Amp
Tiga Rumah Satu Unit Mobil Habis Terbakar di Tembilhan
Naik Drastis, ODP Virus Corona di Pelalawan Jadi 195 Orang
Tradisi Pisah Sambut Kapolres Bengkalis Berlangsung Meriah
Korban Prostitusi Online di Karimun Kepri Kebanyakan Berasal dari Pulau Jawa
Buntut Pencalegan OSO, Hanura Polisikan Ketua KPU RI
Besok Enam Mahasiswa yang Jalani Observasi di Natuna Kembali ke Riau
Bupati Suyatno .Amp Canangkan 2021 Rohil Kabupaten Adiwiyata
Senin Depan Latihan Perdana, Manajemen Tunjuk Sementara Raja Paisal Jadi Asisten Pelatih PSPS
Di Isukan Dirinya Akan Gantikan Mayandri Suzarman Sebagai Sekretaris PERADI Pekanbaru,Ini Pernyataan Advokat Muda Asal Inhil