Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Perlombaan Sampan Layar Tradisi Penawar Rindu Warga Melayu Pesisir Indonesia Singapura dan Malaysia
BUALBUAL.com - Kolek atau Sampan Layar sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Melayu pesisir perbatasan antara Indonesia, Singapura dan Malaysia. Kolek merupakan permainan tradisional Melayu pesisir yang dilombakan setiap tanggal 17 Agustus secara turun remurun.
Kolek adalah perahu yang melaju dengan memanfaatkan arus angin melaui layar.
Tokoh masyarakat Melayu Pesisir Pulau Belakang Padang, Kota Batam Musa Jantan menyebutkan lomba kolek atau sampan layar ini telah menjadi tradisi tahunan di Belakang Padang sejak tahun 1959.
"Pertama dilombakan kalau untuk di wilayah Belakang Padang itu pulau sambu 17 Agustus 1959," kata Musa di Lapangan Elang Lut, Pulau Belakang Padang, Kota Batam, Rabu (17/8/22).
Sejak itulah permainan tradisional dilombakan setiap merayakan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Musa, dulu di masa penjajahan, sampan layar pertama kali dimainkan di Singapura setiap tanggal 1 Januari di jembatan Merdeka. Namun, sejak tak ada lagi perlombaan di sana, mulailah dimainkan di Belakang Padang.
"Sisa satu-satunya budaya laut tinggal ini," ucap dia.
Perlombaan sampan layar ini kembali diadakan setelah tiga tahun vakum akibat pandemi Covid-19. Pesertanya tak banyak seperti biasanya. Jika dulu mencapai 72 peserta, kali ini hanya 22 peserta saja.
"Alhamdulillah, atas izin Allah kita bisa adakan kembali sampan layar di Belakang Padang. Kolek sembilan ada sembilan sampan, tujuh ada enam sampan, lima ada enam sampan, dan tiga ada dua sampan," kata Musa.
Pulau Penawar Rindu
Yudi Admajianto, Camat Belakang Padang mengatakan Kegiatan lomba sampan layar di Belakang Padang tak hanya untuk merawat tradisi 17 Agustus yang telah dilaksanakan setiap tahun. Lebih dari itu, tradisi ini juga digelar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.
Di lokasi kegiatan, banyak warung kecil penjual makan. Banyak juga ditemukan yang menjual pakaian dan berbagai macamnya.
"Kami di sini sudah mengadakan kurang lebih lima hari kegiatan, berbagai macam [kegiatan] dan hari ini puncaknya. Perputaran ekonomi di sini sangat luar biasa. Mulai dari penambang, biasa satu atau dua trip sekarang bisa delapan. Warung-warung kecil juga dapat keuntungannya," kata Yudi Admajianto.
Kegiatan selama lima hari terakhir ini juga menjadi nostalgia bagi masyarakat Melayu.
"Kita hadirkan musik melayu, sampai mereka bilang, macam zaman dulu. Makanya tak heran Belakang Padang orang bilang sebagai Pulau Penawar Rindu," ujarnya.

Berita Lainnya
Ketua PWOIN Pimpin Langsung Rapat Kerja Triwulan di Kabupaten Mesuji
FKPPI Lampura Silahturahmi di Kediaman Tokoh Adat Lampung Pepadun Kotabumi Tigo Gedung
YVCI Chapter Prospek Kijang Gelar Sahur On The Road ke Tanjung Uban
YLBH Kutub Gelar Halal Bihalal serta Menerima Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung Kerja Praktek
Pengurus JMSI Riau Periode 2025-2030 Ditetapkan, Ketua Dheni Kurnia: Mari Bersama Besarkan Organisasi Kita
Berkunjung ke Rumah Seniman Riau, KDI Bertambuh Sambal Belacan
SK Kepengurusan PAC Pemuda Pancasila Tanjungpinang Timur Diserahkan
Bupati dan Kapolres Tubaba Jadi saksi Pernikahan Putri dari Ketua Pederasi Adat Megou Pak
Pengurus IKA Unisi Periode 2021-2024 Resmi Dikukuhkan
Yuk! Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Suku Talang Mamak Indragiri Hulu - Riau
Sejarah Istana Hinggap Sultan Siak di Pekanbaru
Konfercab III GP Ansor Tubaba, Sutikno Terpilih Sebagai Ketua