Jangan Tertipu Kelapa yang Tampak Subur, BRIN Sebut Kemarau 2026 Bisa Hantam Panen 2028
BUALBUAL.com - Musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026 perlu menjadi perhatian serius bagi petani kelapa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal, sehingga berpotensi berdampak pada sektor air, kesehatan, pangan, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Daerah sentra perkebunan kelapa, termasuk Kabupaten Indragiri Hilir, menjadi wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan. Meski selama ini pohon kelapa dikenal sebagai tanaman yang tangguh, dampak kekeringan tidak selalu terlihat secara langsung. Daun yang masih tampak hijau belum tentu menandakan tanaman berada dalam kondisi aman.
Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari Pusat Riset Tanaman Pangan, Dr. Rachmiwati Yusuf, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa informasi prakiraan cuaca memiliki peran penting bagi petani kelapa. Menurutnya, karakter fisiologis tanaman kelapa membuat dampak kekeringan dapat memengaruhi produktivitas dalam jangka panjang.
“Banyak petani menganggap kemarau hanya masalah sesaat karena melihat daun kelapa tetap hijau. Padahal, dalam proses pertumbuhan kelapa, apa yang terjadi hari ini dapat menentukan hasil panen dua tahun ke depan,” ujar Rachmiwati.
Ia menjelaskan bahwa pembentukan buah kelapa merupakan proses yang panjang, mulai dari inisiasi primordia, pembentukan bunga, hingga berkembang menjadi buah siap panen. Ketika tanaman mengalami stres air saat puncak kemarau, pohon akan memprioritaskan energi untuk bertahan hidup.
“Akibatnya, bakal bunga yang sedang terbentuk bisa gagal berkembang atau membusuk,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat dampak kemarau tidak langsung dirasakan saat itu juga, melainkan baru terlihat pada periode panen berikutnya. Setelah melewati kemarau panjang, pohon kelapa juga tidak dapat langsung kembali berproduksi normal meskipun hujan telah turun. Tanaman membutuhkan waktu sekitar 12 hingga 24 bulan untuk pulih sepenuhnya.
Karena itu, mitigasi sejak dini menjadi langkah penting yang harus dilakukan petani. Mereka tidak hanya perlu menunggu hujan, tetapi juga menjaga kelembapan tanah, memperbaiki tata air kebun, serta memperhatikan gejala awal stres air pada tanaman.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain pelepah bagian bawah mulai terkulai, daun tombak lambat membuka, dan gugurnya buah muda secara massal.
Dalam menghadapi musim kemarau, Rachmiwati juga mengingatkan petani agar berhati-hati dalam melakukan pemupukan.
“Pemupukan kimia saat puncak kemarau, terutama ketika tanah sangat kering, berisiko merusak akar karena unsur hara tidak dapat terserap secara optimal,” katanya.
Ia menyarankan pemupukan dilakukan sebelum musim kemarau ketika tanah masih memiliki kelembapan dari sisa hujan. Sementara saat kemarau berlangsung, petani lebih dianjurkan memberikan bahan organik atau kompos yang dapat membantu mengikat air di sekitar piringan pohon.
Selain itu, terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk mempertahankan kelembapan tanah, seperti menggunakan mulsa sabut kelapa untuk mengurangi penguapan, membuat parit buntu guna menampung sisa air limpasan, serta melakukan pembersihan gulma secara selektif.
Gulma berdaun lebar dan tinggi sebaiknya dibabat karena bersaing menyerap air. Sebaliknya, rumput pendek dapat dibiarkan tumbuh sebagai penutup permukaan tanah agar tidak langsung terpapar panas matahari.
Pengelolaan air juga perlu dilakukan secara kolektif. Parit, kanal, dan embung kecil di sekitar kebun memiliki peran penting dalam menjaga tinggi muka air tanah.
Menurut Rachmiwati, ekosistem air tidak mengenal batas kepemilikan lahan. Jika sebagian petani menjaga cadangan air sementara yang lain membuka pintu air secara sembarangan, maka ketersediaan air tanah tetap berisiko menurun.
Ia menambahkan, kemarau yang tidak diantisipasi dapat menimbulkan dampak ekonomi berkepanjangan. Selain berpotensi menurunkan produksi dan pendapatan petani, kondisi tersebut juga dapat mengganggu rantai pasok industri berbasis kelapa akibat berkurangnya ketersediaan bahan baku.
Pada akhirnya, aktivitas ekonomi di daerah sentra kelapa juga dapat ikut melemah.
“Jangan tertipu oleh hijaunya daun kelapa hari ini. Rawatlah air dan kelembapan di bawah tanah sekarang, karena air yang dihemat hari ini akan menentukan ada atau tidaknya buah kelapa yang bisa dipanen dua tahun ke depan,” tutup Rachmiwati.

Berita Lainnya
Tetap di Rumah Saja Ketika Pandemi Covid-19
Kolaborasi Camat dan Kepala Desa Berbuah Hasil, Tapal Batas Desa di Pulau Burung Tuntas
Bupati Herman Hadiri dan Lepas Gerak Jalan Sehat Milad KAHMI ke-59 di Inhil
Bupati Bengkalis Kasmarni, Ambil Bagian Mengudara Di Kantor RRI Pekanbaru
Kunjungan Kerja Inspektur Keuangan Pada Jadwal Kejaksaan Agung RI dalam Rangka Inspeksi Khusus
Hadiri Rapat Lintas Sektoral, Bupati Kasmarni Sampaikan RDTR Pulau Rupat Ke Kementerian ATR/BPN.
Riau Rhythm in Orchestra 2020 Bentuk Perlawanan Hadapi Gelombang Kepungan Covid-19
Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna: Milad ke-61 Momentum Bangkitkan Marwah dan Perkuat Persatuan
Wabup Bagus Sholat Ied Bersama Masyarakat di Lapangan Tugu Bengkalis
Buka Kejurnas Dayung, Gubernur Syamsuar Janji Akan Benahi Kebun Nopi
Langkah Hebat, Warga Kabun Rohul Lakukan Isolasi Mandiri Terpusat Warga ODP Guna Memutus Rantai Penyebaran Covid-19
Bupati Bengkalis: Pelayanan Administrasi Kependudukan Harus Mudah, Cepat dan Gratis