PILIHAN
Kata Jokowi: Banyak Yang Nangis Ke Saya Karena Sengketa Tanah
BUALBUAL.com, Presiden Joko Widodo mengatakan, setiap kali kunjungan ke daerah yang sering didengarnya adalah masalah sengketa tanah.
"Sengketa lahan antara tetangga dengan tetangga, antara saudara, masyarakat dengan pemerintah, masyarakat dengan perusahaan, masyarakat dengan BUMN, dan rakyat sering kalah," kata Jokowi sapaan akrab Kepala Negara saat menyerahkan 3.000 sertifikat tanah untuk warga Tegal dan sekitarnya, di GOR Tri Sanja, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11).
Mengapa rakyat sering kalah? Menurut Jokowi, karena mereka tidak memegang sertifikat yang merupakan tanda bukti hak hukum atas tanah yang dimiliki.
"Bapak-Ibu punya tanah tapi enggak ada sertifikat, begitu sengketa, masuk pengadilan, bisa kalah. Tapi kalau sudah yang namanya pegang sertifikat tanda bukti hak hukum atas tanah, enak banget. Dan saya kira kalau kita sudah pegang begini, sudah tidak ada yang berani," tuturnya.
Di Indonesia, lanjut Jokowi, masih ada kurang lebih 80 juta bidang tanah yang belum bersertifikat. Artinya, banyak sekali sengketa. Oleh sebab itu, dia telah memerintahkan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), jika biasanya setahun hanya 500 ribu keluar sertifikat, tahun kemarin harus keluar 5 juta sertifikat.
"Alhamdulillah, akhir tahun selesai 5 juta sertifikat. Tahun ini target saya 7 juta sertifikat harus keluar dari kantor BPN. Tahun depan targetnya 9 juta sertifikat harus keluar," ungkap Jokowi.
Hal itu dilakukan supaya masyarakat pegang tanda bukti hak hukum atas tanah yang dimiliki. Jangan sampai kebanyakan sengketa sana, sengketa sini. Kalau sudah sengketa tanah, sengketa lahan, dia mengaku merasa iba.
"Banyak yang nangis-nangis ke saya sengketa lahan tapi saya tidak bisa apa-apa. Apalagi sudah masuk pengadilan, tidak bisa yang namanya Presiden itu intervensi, enggak bisa," ujar Jokowi.
Dia berpesan, kalau sudah dapat sertifikat agar diberi plastik sehingga kalau genteng rumahnya bocor, kehujanan tidak rusak.
Yang kedua, Jokowi juga meminta agar sertifikat yang sudah dipegang warga agar difotokopi. Sehingga kalau yang asli mungkin hilang masih punya fotokopinya, bisa mengurus ke kantor BPN lagi.
Yang ketiga, kalau sertifikatnya disekolahkan, dipakai untuk jaminan ke bank, dia berpesan agar sebelum meminjam ke bank itu dihitung dulu, dikalkulasi dulu bisa mengangsur, bisa menyicil enggak.
"Dicek, dihitung. Kalau kira-kira tidak bisa mengangsur, tidak bisa menyicil tidak usah pinjam ke bank, jangan pinjam ke bank. Kalau memang bisa menyicil, bisa mengangsur, dihitung betul, enggak apa-apa. Untuk membesar usaha enggak apa-apa," ucapnya.
Dilansir dari laman Setkab, tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri ATR/Kepala BPN, Sofyan Jalil, Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, Koordinator Staf Khusus Presiden, Teten Masduki, dan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin.
Sumber: rmol.co

Berita Lainnya
Akibat Adu Mulut, Dua Anggota Paspamres Jokowi Dikeroyok Lalu Ditikam Hingga Tak Sadarkan Diri
Pemprov Kepri Harus Siapkan Bus, Jembatan 2 Dompak Tanjungpinang Keropos 'Warga Menjerit'
Indonesia - Rusia Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Energi hingga Pertanian dalam Pertemuan Prabowo Subianto - Vladimir Putin
Berikut Ini Rekomendasi Wujudkan Kemerdekaan Pers di Indonesia
PKS Pinta Presiden Jokowi Tunaikan Dulu Janji-Janji Sebelumnya
Diduga Hina Presiden Jokowi, Warga di Lombok Utara di Tangkap Polisi
Apa Kata Jokowi: Pertemuan diam-diam, Luhut, Prabowo Maju capres 2019
Usulan Presiden Jokowi, Masih di Kaji OJK Terkait Penangguhan Cicilan Kredit
BUAL PDIP: Pak Jokowi dan Pak Prabowo Sahabat Baik
Pertemuan DPD I Golkar dengan Presiden Jokowi Dinilai Percepat Konsolidasi Pilpres 2019
Syahrial Nasution Sebut Pemikiran Nadiem Makarim Soal Peruntukan Sekolah Negeri Absurd
Airlangga Akan Temui PDIP Usai Pilkada, Bahas Kesiapan Jadi Cawapres Jokowi