Sejarah Pacu Jalur: Dari Ratu Wilhelmina Hingga Harapan ke UNESCO

BUALBUAL.com - Pacu Jalur, lomba mendayung perahu panjang khas Kuantan Singingi, telah menjelma menjadi ikon budaya Riau. Di balik kemeriahan festival yang setiap tahun menyedot ribuan penonton, tersimpan sejarah panjang penuh makna.
Sejarawan Riau, Prof. Suwardi MS, menuturkan bahwa pada awalnya pacu jalur hanyalah permainan rakyat antar-desa di tepian Sungai Kuantan. Tradisi ini lahir sebagai hiburan sekaligus ajang adu keterampilan mendayung antarmasyarakat.
"Dulu pacu jalur hanya permainan rakyat. Namun kemudian, Belanda menjadikannya sebagai peringatan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Saat itu pacu jalur melibatkan 19 koto di Kuantan,” ungkap Prof. Suwardi di Pekanbaru.
Pada masa kolonial, Belanda menjadikan pacu jalur sebagai perayaan rutin setiap tahun. Jalur-jalur panjang berukuran belasan meter didayung dari mudik ke hilir, melintasi kawasan Lubuk Ambacang hingga Cerenti.
Namun, setelah Indonesia merdeka, makna pacu jalur bergeser. Tradisi rakyat ini kemudian diperingati setiap Agustus sebagai bagian dari HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Dari sinilah pacu jalur semakin mengakar sebagai identitas budaya Riau.
.jpg)
Prof. Suwardi mengenang, pada dekade 1980-an pacu jalur hanya dibuka oleh bupati setempat. Ia lalu mengambil inisiatif menulis buku khusus tentang pacu jalur dan mengajak Gubernur Riau saat itu, Imam Munandar, untuk hadir. Sejak saat itulah pacu jalur resmi ditetapkan sebagai event tingkat provinsi.
"Saya kemudian diminta Kementerian untuk menulis buku tentang pacu jalur dan seluruh tata upacaranya. Alhamdulillah, kini pacu jalur sudah menjadi agenda pariwisata nasional,” jelasnya.
Kini, setiap tahun ribuan wisatawan datang ke Tepian Narosa, Teluk Kuantan, untuk menyaksikan jalur-jalur berlaga. Pacu jalur tidak hanya sekadar lomba mendayung, tetapi juga perwujudan nilai gotong royong dan kekompakan masyarakat Kuantan Singingi.
Prof. Suwardi juga mengungkapkan bahwa sudah ada upaya agar pacu jalur masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Meski hingga kini belum resmi terdaftar, pengakuan internasional mulai terlihat dari penampilan tari pacu jalur yang mampu memikat penonton mancanegara.
"Sejak dulu sudah ada usaha mendaftarkan pacu jalur ke UNESCO. Walau belum pasti, penampilan yang viral hingga menarik wisatawan asing adalah bentuk penghargaan dari berbagai pihak,” ujarnya.
Lebih dari sekadar lomba, pacu jalur sarat dengan nilai sosial dan historis. Setiap perahu yang diturunkan ke arena dibuat, dilatih, dan dipersiapkan bersama, lengkap dengan doa adat. Nilai kebersamaan inilah yang membuat pacu jalur berbeda dari perlombaan olahraga lainnya.
Kini pacu jalur bukan hanya agenda lokal, melainkan kebanggaan Riau di tingkat nasional. Festival ini juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat dan menjadi magnet pariwisata daerah.
"Saya berharap tahun ini pacu jalur mendapat pengakuan lebih besar, baik dari dalam negeri maupun internasional,” tutup Prof. Suwardi.
Berita Lainnya
Sungai Siak, Dulu Bernama Sungai Jantan: Inilah Asal-usul dan Perannya
Sejarah Awal Mulannya Syair 'Berdah' Berkembang di Kabupaten Indragiri Hilir
Sejarah Bagansiapiapi: Kota Kecil di Riau yang Pernah Menggetarkan Dunia
Bukan Berada di Kawasan Timur Tengah, Inilah Negara Muslim Terkecil di Dunia?
Mengenal Balai Adat Melayu, Ikon Budaya dan Pariwisata Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau
Negara Satu-satunya di Asean yang Menggunakan Hukum Islam, Berikut Fakta dan Sejarah Negara Brunei Darussalam
Stand Up Comedy Melayu Riau, Celoteh Yong Dolah Pokoknya Mewah-mewah
Jejak Orang Laut di Nusantara: Duanu dan Duano, Sama tapi Berbeda
Sejarah Kelurahan Bandar Sri Gemilang: Dari Pesisir Sunyi Menuju Pusat Kateman
Kecamatan Kelayang: Sejarah dan Perjalanan Membangun dari Pedalaman Indragiri Hulu
Dari Pelanduk ke Desa Surayya Mandiri: Kisah Pemekaran dan Pelestarian Tradisi Melayu Riau
Yuk Mengenal, Peninggalan Sejarah Cipang Raya Dari Raja Rokan untuk Soleha Tercinta