Buyer Tiongkok Beralih ke Vietnam, Harga Kelapa Indonesia Langsung Rontok Lebih 50 Persen
BUALBUAL.com - Industri ekspor kelapa bulat nasional saat ini menghadapi tekanan cukup berat. Harga jual kelapa bulat di tingkat eksportir dilaporkan turun lebih dari 50 persen dibandingkan harga tertinggi yang sempat tercatat pada tahun lalu.
Penurunan harga tersebut dipicu melemahnya permintaan dari pasar ekspor utama, khususnya Tiongkok. Di sisi lain, melimpahnya pasokan kelapa asal Vietnam dengan harga yang lebih kompetitif membuat sebagian importir beralih dari Indonesia.
Salah seorang eksportir kelapa bulat, Loleng, mengungkapkan bahwa banyak pembeli dari Tiongkok mulai mengurangi bahkan menghentikan pembelian kelapa dari Indonesia karena memilih pasokan dari Vietnam.
“Pasokan kelapa Vietnam saat ini melimpah di pasar Tiongkok dengan harga yang jauh lebih murah, sehingga banyak buyer beralih ke sana,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, penurunan permintaan pada semester pertama setiap tahun sebenarnya merupakan siklus yang biasa terjadi. Namun, kondisi pada tahun 2026 dinilai jauh lebih berat karena penurunan harga di negara tujuan berlangsung sangat tajam.
“Harga kelapa bulat di negara tujuan terus menurun, sementara buyer juga terus menekan harga karena permintaan melemah. Dampaknya langsung dirasakan eksportir di Indonesia,” katanya.
Selain menghadapi persaingan harga dari Vietnam, para eksportir juga dibebani tingginya biaya operasional. Kenaikan ongkos logistik dan sewa kontainer membuat margin keuntungan semakin menipis.
“Tingginya biaya logistik, termasuk sewa kontainer, membuat kami harus bekerja lebih keras agar tetap mampu bersaing dengan eksportir dari Vietnam,” tambahnya.
Loleng menegaskan bahwa penurunan harga kelapa tidak berkaitan dengan kebijakan pemerintah Indonesia. Hingga saat ini tidak ada larangan maupun pembatasan ekspor kelapa bulat. Pemerintah juga tidak memberlakukan pajak atau pungutan tambahan terhadap komoditas tersebut.
Menurutnya, anjloknya harga lebih disebabkan oleh kondisi pasar global. Hampir seluruh negara produsen kelapa saat ini menghadapi tekanan serupa akibat melemahnya permintaan dunia serta ketidakpastian ekonomi yang dipengaruhi situasi geopolitik internasional.
Ia juga membantah anggapan bahwa eksportir secara sepihak menentukan harga pembelian kelapa dari petani.
“Harga terbentuk berdasarkan mekanisme pasar atau supply and demand yang ditentukan oleh buyer di negara tujuan, terutama Tiongkok. Kami tidak bisa memaksakan pengiriman apabila tidak ada permintaan. Selain itu, faktor panen dalam negeri juga turut memengaruhi pergerakan harga,” jelasnya.
Di tengah kondisi pasar yang masih lesu, sejumlah eksportir memilih melakukan efisiensi dengan membatasi volume pengiriman guna menghindari kerugian yang lebih besar.
Para pelaku usaha berharap kondisi ekonomi serta daya beli industri pengolahan di Tiongkok dan Thailand segera membaik. Dengan pulihnya permintaan, aktivitas ekspor kelapa bulat Indonesia diharapkan kembali normal dan harga di tingkat eksportir maupun petani dapat berangsur stabil.

Berita Lainnya
PSBB Diterapkan, Warga Miskin Pekanbaru Makan Nasi Putih Lauk Cabai 'Tak Ada Bantuan'
Dampak Virus Corona, Ramayana PHK Karyawannya
KARA Kembali Raih Indonesia Customer Experience Award Tahun 2024
Amplang Udang BuDe: Peluang Bisnis Olahan Udang Khas Indragiri Hilir
UMKM Kue Bingka Kudapan Suku Banjar di Tembilahan, Tidak Hanya Dikenal dalam Negeri, Tapi Dikenal Juga Sampai ke Luar Negeri
Sambu Group Berpartisipasi dalam Seminar Kelapa Internasional
Imbas Kelangkaan Kelapa, PT RSUP Kurangi Tenaga Kerja
8 Syarat yang Wajib Kami Penuhi Jika Ingin Membuat Surat Izin Praktik Bidan di DPMPTSP Inhil
Ternyata Minyak Nabati Kelapa Sawit Lebih Efisien 10 Kali Lipat, Ini Faktanya!
Kepala OJK Riau : Masyarakat Riau Harus Berhati-hati terhadap Tawaran Investasi
Angka Kemiskinan di Inhil Naik, Pengeluaran Harian Warga Dinilai Tak Cukup
Disdagtrin Way Kanan Akan Menggelar Pasar Murah Ramadhan