Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Setiap Hujan Jadi Derita: Jalan Sei Gergaji - Pulau Kijang Berubah Kubangan
BUALBUAL.com - Jalan penghubung dari Sei Gergaji menuju Sanglar hingga Pulau Kijang di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) bukan sekadar jalur biasa. Bagi masyarakat di Kecamatan Reteh, jalan ini adalah urat nadi kehidupan. Namun kini, harapan yang melintas di atasnya kerap tertahan oleh lumpur dan kerusakan yang tak kunjung usai.
Setiap kali hujan turun, jalan itu berubah wajah. Dari yang semula bisa dilalui, menjadi kubangan panjang yang licin dan sulit ditaklukkan. Lumpur menutup permukaan, genangan air mengisi lubang-lubang dalam, dan kendaraan pun satu per satu mulai tersendat.
Tak jarang, pengendara harus turun, mendorong sepeda motor atau mobil yang terperosok. Perjalanan yang seharusnya singkat berubah menjadi perjuangan. Bagi sebagian warga, ini bukan lagi kejadian sesekali - melainkan rutinitas yang melelahkan.
“Kalau hujan, jalannya makin parah. Banyak yang tak bisa lewat,” ujar seorang warga, menggambarkan kondisi yang sudah terlalu sering mereka hadapi.
Padahal, jalan Sei Gergaji - Sanglar - Pulau Kijang memiliki peran yang begitu penting. Dari sinilah roda ekonomi berputar. Barang kebutuhan pokok didistribusikan, hasil kebun diangkut, dan aktivitas masyarakat bergantung pada kelancaran jalur ini.
Namun waktu terus berjalan, sementara kondisi jalan seolah tak banyak berubah. Perbaikan yang dilakukan sebelumnya belum mampu menjawab persoalan secara tuntas. Setiap kali hujan datang, kerusakan kembali terulang—seakan menghapus semua upaya yang telah dilakukan.
Kondisi ini terasa semakin berat ketika momen-momen penting tiba, seperti menjelang Hari Raya Idul Fitri. Saat mobilitas meningkat dan kebutuhan akan akses lancar semakin tinggi, warga justru dihadapkan pada jalan yang kian memprihatinkan.
Harapan pun terus disuarakan. Warga ingin jalan ini tidak lagi menjadi cerita lama yang berulang setiap tahun. Mereka mendambakan perbaikan yang benar-benar menyentuh akar persoalan, bukan sekadar solusi sementara.
Sebab bagi mereka, jalan ini bukan hanya soal infrastruktur. Ini tentang akses menuju kehidupan yang lebih layak—tentang perjalanan mencari nafkah, tentang anak-anak yang ingin sampai ke sekolah, dan tentang masyarakat yang hanya ingin beraktivitas tanpa harus melawan lumpur setiap hari.
Di tengah kondisi yang ada, satu hal yang masih bertahan adalah harapan. Harapan agar suatu hari nanti, jalan ini kembali menjadi penghubung—bukan penghambat.

Berita Lainnya
Sebuah Kapal Kayu Tenggelam di Perairan Tanjung Sembilang Kabupaten Lingga, 3 Orang Selamat
Konser Honne di Pekanbaru Tuai Penolakan, Dinilai Terafiliasi Komunitas LGBT
Lakukan Pemeriksaan Fisik, Tim KPK Dirikan Tenda di Terowongan Flyover SKA Pekanbaru
Pasukan Israel Tutup Mata Air Palestina di Hebron dengan Semen
BPJS Tak Punya! Terjatuh di Belakang Rumah 'Kayu Menancap Ke Perut' Warga Concong Inhil Butuh Uluran Tangan
Dari Desa ke Tepian Narosa, Singa Kuantan Dibekali Doa dan Dukungan Warga
Begini Penjelasan PT HK Terkait Beredar Video Begal di Tol Pekanbaru-Dumai
Polres Tanjungpinang Selidiki Penemuan Mayat di Kelurahan Sei Jang
Penimbunan Lahan di Sungai Serai, CV IH Akui Oknum Satpol PP Kota Tanjungpinang Bantu Pengurusan Izin
Bawaslu Purwakarta Bergegas Pindah Kantor, Ada Apa?
Dugaan Perundungan Verbal di SMK Negeri Rengat Barat, Siswa Alami Gangguan Psikologis
Diduga Proyek Siluman, Pengerjaan Cuci Parit di Desa Kulim Jaya Tanpa Papan Informasi