Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Riau Kiblat Pelestarian Zapin, Tiga Varian Telah Ditetapkan Sebagai WBTB
BUALBUAL.com - Provinsi Riau telah ditetapkan menjadi kiblat dalam hal pelestarian tari Zapin se-Asia Tenggara sejak 2017 lalu. Hal ini berangkat dari kekayaan variasi Zapin yang dimiliki oleh "Bumi Lancang Kuning".
Sedikitnya, Riau memiliki 7 varian Zapin berdasarkan karakteristik daerah, mulai dari Zapin Bengkalis, Zapin Pelalawan, Zapin Indragiri Hilir, Zapin Meranti, Zapin Rokan Hilir dan Zapin Dumai.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Raja Yoserizal Zen mengatakan, penunjukan Riau sebagai daerah pusat pelestarian Zapin berangkat dari kesepakatan para pelaku seni dalam sebuah konvensi kebudayaan beberapa tahun lalu.
"Karena memang Riau ini diakui sebagai daerah yang memiliki varian Zapin paling banyak dibandingkan provinsi lain. Bahkan, negara-negara rumpun Melayu seperti Malaysia dan Singapura hanya memiliki 1 varian Zapin," kata Yose, Minggu (21/6/2020) di Pekanbaru.
Bahkan, kata Yose, dari 7 varian Zapin yang ada di Provinsi Riau, tiga di antaranya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
"Yang sudah ditetapkan sebagai WBTB melalui sidang penetapan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah Zapin Api (Pulau Rupat), Zapin Meskom (Bengkalis) dan Zapin Siak," ungkapnya.
Lebih lanjut di Katakan Yose, secara umum perbedaan Zapin di masing-masing daerah ini dapat diidentifikasi dari beberapa hal.
"Kita bisa melihat perbedaan dari karakteristiknya, misalnya Zapin Api, dalam pertunjukkannya ada permainan api, kemudian kita bisa melihat dari langkahnya, walaupun sama-sama langkah Alif, tapi satu sama lain memiliki perbedaan," terang Yose.
Lebih lanjut Yose menerangkan, untuk mengidentifikasi tari Zapin di satu daerah, ada tiga syarat utama yang harus diketahui, "Yang pertama ada Kerjaan Islam di daerah tersebut, kemudian ada debus, serta ada maestro," terangnya.
"Kita juga bisa melihat dari Notasi Laban, ini seperti notasi pada lagu, kalau dalam Zapin namanya Notasi Laban," kata Yose lagi.
Hingga saat ini, ungkap Yose, pihaknya terus melakukan kajian dalam rangka upaya pelestarian Zapin di wilayah setempat.
Dia mengakui, Riau dengan kekayaan khasanah budaya yang dimiliki, tak menutup kemungkinan meninggalkan jejak sejarah masa lalu untuk diungkap.
"Contohnya di Pekanbaru, dulu ada Zapin persebatian, perpaduan antara Siak dan Kerajaan Lingga. Kemudian di Indragiri Hulu juga ada, tapi saat ini kita tidak bisa lagi menemukan maestronya. Karena itu kita terus berupaya melakukan kajian supaya Zapin ini dapat kita lestarikan," demikian Yose.

Berita Lainnya
Walikota dan Wakil Gubernur Ajak Warga Untuk Bersama Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Mesjid Nurul Falah, Ini Pesan Bupati Pelalawan
Gubri Abdul Wahid Dorong Tata Niaga dan Hilirisasi Kelapa di Riau
Gubernur Ansar Tinjau Proses Pembangunan Rumah Singgah di Jakarta, Sediakan 40 Tempat Tidur dan Gratis Bagi Warga Kepri yang Tidak Mampu
Jalan Baru Rusak dalam Hitungan Bulan, Gubernur Riau Geram dengan Truk ODOL
Lihat Program Strategis Nasional, Kadistan Bengkalis Langsung Turun ke Desa Muara Dua
Gubernur Ansar Serahkan Bantuan Alat Pertanian di Tembesi Kota Batam
Dinas Pendidikan Riau Resmi Umumkan Jadwal PMB SMA/SMK 2025, Ini Jadwal dan Tahapannya
Bupati Bengkalis Kasmarni, Buka MTQ Ke-VII Bathin Solapan
11 Daerah di Riau Tetapkan Siaga Darurat Karhutla, Kuansing Belum Menyusul
Suhardiman Amby Resmi Lantik Pejabat Eselon III dan IV Tekankan Integritas dan Akuntabilitas
Gubernur Riau Sidak Tambang Emas Ilegal, Tegaskan Penataan Bukan Penutupan