Muamar Alkadafi: Jalan Kotabaru - Pulau Kijang dan Benteng Jadi Simbol Gagalnya Tata Kelola Infrastruktur
BUALBUAL.com - Kerusakan berulang pada ruas jalan Kotabaru - Pulau Kijang dan Benteng kembali disorot. Aktivis Inhil, Muamar Alkadafi, menilai dua ruas strategis tersebut sudah lebih dari 20 tahun terjebak dalam siklus rusak perbaiki rusak lagi karena persoalan yang jauh lebih kompleks dari sekadar kurangnya perawatan.
Menurut Alkadafi, wilayah Inhil memiliki karakteristik geoteknik ekstrem berupa tanah gambut jenuh air yang mudah turun dan amblas. Kondisi ini membuat pembangunan jalan tidak bisa dilakukan dengan metode standar.
“Jalan di gambut itu butuh rekayasa teknis khusus. Kalau tidak berbasis sains, kerusakan pasti terulang,” tegasnya.
Ia menyebut, pembangunan di kawasan gambut idealnya menggunakan geotextile, teknik preloading, elevasi adaptif, hingga manajemen hidrologi gambut yang benar.
"Wilayah Inhil memiliki karakteristik geoteknik ekstrem berupa tanah gambut jenuh air yang mudah turun dan amblasa". Terangnya
Namun hal tersebut sulit diterapkan karena keterbatasan anggaran daerah. Biaya pembangunan di tanah gambut disebut jauh lebih tinggi dibanding tanah mineral, sementara ruang fiskal Pemkab Inhil sangat terbatas.
“Yang dilakukan selama ini hanya perbaikan darurat. Tambal sini, kurangi titik kritis, tapi akar masalahnya tidak disentuh,” ujarnya.
Alkadafi juga menyoroti ketiadaan grand design jangka panjang. Menurutnya, proyek yang berjalan selama ini terkesan parsial, tidak terintegrasi, dan minim kajian geoteknik mendalam. Hal ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai keseriusan pemerintah daerah dalam menyelesaikan masalah secara menyeluruh.
“Saya melihat proyek yang berjalan selama ini terkesan parsial, tidak terintegrasi, dan minim kajian geoteknik mendalam. Hal ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai keseriusan pemerintah daerah dalam menyelesaikan masalah secara menyeluruh".jelasnya
Lebih jauh, ia menilai lemahnya sinergi antara kabupaten, provinsi, dan pemerintah pusat turut memperburuk kondisi. Padahal ruas Kotabaru - Pulau Kijang dan Benteng memiliki nilai strategis sosial-ekonomi yang semestinya dapat masuk skema pendanaan nasional.
“Selama tidak ada kolaborasi dan semuanya dibebankan ke APBD yang kecil, jangan harap ada perubahan besar. Ini sudah berlangsung dua dekade,” kata Muamar Alkadafi.
Ia menegaskan, dua ruas tersebut telah menjadi simbol kegagalan kolektif antara aspek teknis, fiskal, dan perencanaan.
“Jika pola ini tidak berubah, 20 tahun ke depan kita akan mendengar cerita yang sama: diperbaiki hari ini, rusak lagi besok,” tutupnya.

Berita Lainnya
Hujan Deras, Perumahan di Jalan Datuk Tunggul Pekanbaru Kebanjiran
Nyawa Taruhan! Prajurit TNI Berlari dari Kepungan Api Karhutla Riau
Stafsus Menkeu Tuntut Bupati Meranti Minta Maaf soal 'Iblis atau Setan', M Adil: Tidak Ada Minta Maaf
Pemuda Ini Tewas Kecelakaan di Batu 5 Tanjungpinang
Wakil Ketua Komisi II DPRD Inhu Pimpin RDP dugaan Kebun Inti Plasma yang tidak berkeadilan
Perangkat Desa Diduga Ikut Kampanye, Bawaslu Bintan Rekomendasi Pemberian Sanksi
Modus Akui jadi Famili, Usaha Penculikan Anak di SDN 1 Mekarjadi Ciamis Digagalkan
Warga Talang Jangkang Diterkam Buaya saat Cuci Kaki di Sungai Reteh
Kondisi Irjen Rusdi Hartono Patah Tangan, Wajah Direskrimum Berdarah, Berikut Kronologi Helikopter Rombongan Kapolda Jambi Kecelakaan
Terkuak Penyebab 2,3 Ton Ikan Mas Mati di Danau PLTA Kampar, Riau
GMRI Anti Korupsi Akan Datangi KPK, Terkait Kasus Dugaan Korupsi Gubri Syamsuar Dinilai Mandek
Relawan Pro JARWO Polisikan Penyidik KPK, Apakah Terkait Kasus E-KTP?