Dituding Membuat Bazar Ilegal, Ayu Sitorus Angkat Bicara
Prioritaskan Jalan, Musrenbang Selayar 2027 Digelar Efisien
Bukan Hanya BBM, Perang AS-Iran Ternyata Pengaruhi Harga Mainan Anak-Anak hingga Pakaian
BUALBUAL.com - Dampak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran ternyata tidak hanya terasa pada harga bahan bakar, tetapi juga merembet ke berbagai produk sehari-hari, termasuk mainan anak-anak.
Sebuah perusahaan mainan di Florida, Aleni Brands, mengungkapkan biaya bahan baku mereka naik setelah pasokan minyak dari Timur Tengah terganggu. Mainan berbahan lembut seperti boneka umumnya dibuat dari poliester dan akrilik, serat sintetis yang berasal dari minyak bumi.
CEO Aleni Brands, Ricardo Venegas, mengatakan pemasok di China telah menaikkan harga bahan hingga 10%–15% hanya tiga minggu setelah perang dimulai.
“Situasi ini menunjukkan betapa besar peran minyak dalam kehidupan kita. Bahkan harga mainan pun ternyata berkaitan langsung dengan minyak,” kata Ricardo, dikutip dari AP, Sabtu (25/4/2026).
Menurut US Department of Energy, bahan turunan minyak dan gas digunakan dalam lebih dari 6.000 produk konsumen. Mulai dari keyboard komputer, kosmetik, sepatu, deterjen, hingga peralatan medis.
Selama ini, dampak paling terasa dari konflik adalah kenaikan harga bensin. Namun, efek lanjutannya mulai dirasakan di sektor lain, seperti tiket pesawat yang lebih mahal akibat kenaikan bahan bakar, hingga potensi kenaikan harga makanan dan barang logistik.
Minyak mentah tidak hanya diolah menjadi bahan bakar, tetapi juga menjadi bahan kimia dan plastik yang digunakan dalam berbagai produk. Enam bahan utama petrokimia, yakni ethylene, propylene, butylene, benzene, toluene, dan xylene, menjadi dasar pembuatan plastik, nilon, dan poliester.
Akibat gangguan pasokan minyak global yang sudah berlangsung sekitar dua bulan, biaya produksi berbagai barang pun meningkat. Apabila kondisi ini berlanjut, konsumen harus membayar lebih mahal.
Harga Sepatu hingga Pakaian Ikut Naik
Asosiasi industri sepatu di AS memperkirakan harga sepatu bisa naik 1,5% hingga 3% dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini karena sekitar 70% bahan sepatu sintetis berasal dari petrokimia yang terkait langsung dengan harga minyak.
Di sektor pakaian, harga bahan poliester juga melonjak dari sekitar 90 sen menjadi US$ 1,33 per kilogram. Kenaikan ini diperkirakan menambah biaya produksi setiap pakaian sekitar 10–15 sen.
Beberapa perusahaan mulai mencari cara menekan biaya. Rinseroo, misalnya, meningkatkan jumlah pembelian dari pemasok China untuk menghindari kenaikan harga lebih lanjut.
Sementara itu, perusahaan produk medis Gentell berencana menaikkan harga hingga 15% dalam waktu dekat karena biaya produksi naik sekitar 20%.
Meski demikian, tidak semua perusahaan langsung menaikkan harga. Sebagian masih mencoba menahan agar tetap kompetitif di pasar.

Berita Lainnya
Update Covid-19 Indonesia: 8.607 Positif, 1.042 Sembuh, 720 Meninggal Dunia
Dinyatakan Sembuh dari Virus Corona, Wali Kota Bogor 'Bima Arya' Diizinkan Pulang
Jokowi Abaikan Rasa Kemanusiaan Korban Terorisme "Sadis"
Kandang Banteng Terusik, Inilah Empat Tanggapan 'Menohok' Kubu Jokowi
Kata Tim Jokowi: Prabowo Tak Pantas Marah pada Pers soal Reuni 212
Munas XVI IPSI Resmi Dimulai, Prabowo Tekankan Pelestarian Pencak Silat sebagai Budaya Bangsa
Ketua GNPF: Cawapres Jokowi, KH Ma'ruf Amin Sedang Sakit
Jelang Kedatangan Jokowi ke Riau, Pawang Hujanpun Dipersiapkan!
Aktivis Lingkungan Banyak Dikriminalisasi, WALHI Layangkan Somasi Kepada Presiden Jokowi
Ketua LAM Tanjungpinang: Kita Minta Dia Sadar Diri, Bobby Jayanto Diduga Menyinggung Warga Kulit Hitam
Rakor Nasional BNPB, Presiden Jokowi Ingatkan Riau Soal Karhutla
Tak Garang Ancaman, Polisi Tangkap Pria yang Ancam Penggal Kepala Jokowi