Siapa Bapak Kiranya? SF Hariyanto Bantah Ancaman dan Isu Cium Tangan di Sidang Abdul Wahid
BUALBUAL.com - Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu (3/6), berlangsung panas.
Persidangan diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi, termasuk soal dugaan ancaman hingga isu cium tangan.
Dalam sidang tersebut, Abdul Wahid secara langsung mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, yang hadir sebagai saksi dari Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Abdul Wahid mengungkit pertemuan mereka usai pelantikan pada bulan Ramadan. Ia menyinggung adanya dugaan pernyataan bernada intimidatif yang disebut pernah disampaikan SF Hariyanto saat itu.
Di hadapan majelis hakim yang diketuai Delta Tamtama, Abdul Wahid mengaku sempat diperlihatkan rekaman pemeriksaan KPK dalam perkara lain saat berkunjung ke rumah SF Hariyanto.
"Saya diperiksa di KPK. Saya agak kaget, Pak. Ini rekaman KPK sangat rahasia. Ketika saya disidik, saya mendengarkan rekaman itu. Itu yang ditunjukkan ke saya,” ujarnya.
Ia juga menyebut adanya ucapan yang dinilainya sebagai bentuk ancaman.
“Bahwa ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Hati-hati tangan saya banyak di mana-mana, termasuk di KPK juga tangan saya ada di mana-mana,” kata Abdul Wahid, menirukan dugaan pernyataan tersebut.
Namun, SF Hariyanto langsung membantah tudingan itu. Ia menegaskan tidak pernah mengucapkan kalimat sebagaimana yang disampaikan Abdul Wahid.
“Yang ngomong kan Bapak, bukan saya yang ngomong,” jawabnya.
Saat diminta penegasan oleh majelis hakim, SF Hariyanto kembali menepis tudingan tersebut.
“Tidak benar, Pak,” tegasnya.
Abdul Wahid kemudian kembali mengangkat dugaan ucapan lain yang dinilainya bernada serupa. Namun lagi-lagi, hal itu dibantah oleh SF Hariyanto.
“Tidak pernah saya bilang,” ujarnya singkat.
Ketegangan sidang meningkat ketika Abdul Wahid menyinggung persoalan permintaan maaf hingga dugaan mencium tangan.
“Berapa kali Bapak pernah minta maaf ke saya dan mencium tangan saya?” tanya Abdul Wahid.
SF Hariyanto menanggapi dengan tegas.
“Saya tidak pernah minta maaf atau mencium tangan Bapak. Siapa Bapak kiranya? Kok saya yang minta maaf sama Bapak,” katanya.
Abdul Wahid lalu mengaitkan hal tersebut dengan upaya perdamaian yang disebut difasilitasi Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan. Ia mempertanyakan keberadaan dokumentasi pertemuan tersebut.
Namun, SF Hariyanto tetap pada keterangannya.
“Saya tidak pernah mencium tangan Bapak. Saya sudah pernah jadi pejabat, Pak,” ucapnya.
Di akhir sesi tanya jawab, Abdul Wahid meminta agar saksi memberikan keterangan secara jujur.
“Saya ingin Bapak berkata jujur dengan baik dan benar,” katanya.
Menanggapi hal itu, SF Hariyanto menyatakan bahwa dirinya telah memberikan keterangan di bawah sumpah.
“Saya sudah sumpah, Pak,” ujarnya.
Selain Abdul Wahid, perkara dugaan korupsi ini juga melibatkan Kepala Dinas PUPR-PKPP Riau Muh Arief serta tenaga ahli gubernur Dani M Nursalam.

Berita Lainnya
Sepasang Pengedar Sabu di Rengat Dibekuk Polres Inhu
Serius Berantas Narkoba, Polres Inhil Turun ke Tempat Hiburan Malam
Polsek Bintan Timur Tangkap 3 Pelaku Curanmor dan Amankan 5 Unit Sepeda Motor
Satnarkoba Polres Bengkalis, Gelar Pelaksanaan Deklarasi Kampung Bebas Narkoba dan Pelaksanaan Pemberian Bantuan Sembako
Vonis Mati Dianulir MA, Harta Puluhan Miliar Raja Narkoba Adam di Batam dan Inhil Dirampas Negara
Tim Opsnal Polsek Abung Timur Ringkus Pelaku Curas
Masyarakat Apresiasi Polda Riau, Merespon Laporan Warga Kepenghuluan Teluk Bono 2 Terkait Dugaan Sengketa Lahan dengan PT Jatim Jaya
Wanita Pengedar Narkoba Dibekuk di Tembilahan Hulu, Sabu 2,09 Gram Disita
Novin Karmila Diduga Serahkan Rp500 Juta ke Risnandar, Ini Kesaksian Ajudan
Kecanduan Nonton Video Porno, Remaja di Kampar Cabuli Balita
Belum Lunasi Ratusan Juta Temuan BPK RI, Proyek Jalan di Kempas Inhil Terancam Konsekuensi Hukum
Pelaku Pembobol Rumah Mewah di Jalan Swarna Bumi Tembilahan Ditangkap Polisi